[ONESHOT] Tell Me What is Love

983641_819012898113974_2140885700_n

Taehyung menyesap tehnya. Meletakkan cangkir lalu mengerutkan kening. “Ini… kau yang membuat ini?”

Yui tersenyum cerah. “Tentu saja, bagaimana menurutmu?”

“Bagus sekali! Kau memang berbakat!” Teahyung mengacungkan jempolnya di depan wajah gadis berambut panjang itu. Matanya kembali menapaki setiap inci gambar figur tubuhnya yang terkesan keren dalam goresan pensil.

Senyum Yui kembali mengembang. Senang sekali Taehyung menyukai gambarnya. “Ini kado untuk kelulusanmu.”

“Apa?”

“Kado kelulusan. Selamat, kau lulus!” Tangan Yui mengundang tangan Taehyung untuk bersalaman.

Kepala Taehyung miring delapan puluh tujuh derajat. “Aku sudah wisuda lima bulan yang lalu.” Hening sejenak. “Jadi, kau kira aku tidak bisa lulus? Yaya kau memang pintar, Yui Shin.”

Yui tertawa renyah. “Yang benar saja. Kau hampir menjadi mahasiswa abadi kalau aku tidak memaksamu untuk segera menyelesaikan skripsimu. Jangan lupa di situ juga ada campur tanganku, jangan bilang semuanya adalah hasil karyamu.” Taehyung masih diam menatap gambarnya, menunggu Yui menyelesaikan kalimatnya. “Bahkan kau tidak mencantumkan namaku di daftar pustakanya.”

Mata Taehyung menyipit mendengar nada bicara Yui yang terkesan membanggakan dirinya. “Kalau begitu aku tidak akan lulus, bodoh.”

“Kau benar. Aku tidak mau punya teman mahasiswa abadi.” Kemudian ia tertawa lagi. “Katanya kau sudah bekerja di sebuah rumah sakit?”

“Ya.” Jawab Taehyung singkat sambil mengunyah donat. “Bagus kan, kau seorang guru dan aku seorang dokter.”

“Apanya yang bagus?”

Taehyung terlihat berpikir. “Tidak ada. Hanya terdengar bagus, begitu saja.”

Lima menit berlau dengan keheningan. Mereka sama-sama larut dalam pikiran masing-masing.

“Taehyung, kau sadar berapa lama kita berteman?” Yui memecah keheningan.

Bola mata Taehyung bergerak ke atas, lalu memfokuskan lensanya pada gadis di depannya. “Sepuluh tahun? Sebelas? Dua belas? Entahlah….”

“Sembilan belas, bodoh.”

“Hei, kau baru saja memanggilku bodoh.”

“Kau memang bodoh, mantan calon mahasiswa abadi.”

“Berhenti memanggilku itu, aku sudah lulus.”

Lalu keduanya sama-sama tertawa. Ingatan mereka serentak memutar kembali kenangan tentang mereka berdua. Hari dimana Taehyung bertemu Yui di pasar saat sama-sama menemani Ibu mereka belanja. Saat itu mereka memutuskan melarikan diri karena bosan mengikuti Ibu mereka. Tak mau hal serupa terulang lagi, akhirnya Ibu mereka berteman dan sepakat untuk menjaga anaknya masing-masing dengan lebih baik.

*

Jujur saja sebenarnya ia tidak begitu menyukai bau rumah sakit dengan bau obat-obatan yang menyengat. Darah, sakit, luka, penyakit, virus, dan kematian. Taehyung benci semuanya yang menyakitkan.

Hari ini Taehyung baru saja selesai mengoprasi pasien yang sedikit rewel. Kaki kanannya habis terbakar, tidak mungkin untuk sembuh. Satu-satunya jalan adalah mengamputasinya. Tapi pasien it uterus menangis dan berteriak, bahkan mengamuk karena ia bilang cita-citanya adalah menjadi pemain bola terkenal.

Bukan hal yang baru lagi kalau Taehyung mendapat protes, complain, hardik, dan kata-kata sumpah serapah lainnya dari pasien. Ia hanya bisa membalasnya dengan senyum seolah mengatakan maaf. Bagaimana pun itu memang tugasnya, menyelamatkan hidup orang lain.

“Hei dokter Kim, bagaimana harimu?” suara Yui di sebrang telepon.

“Buruk.” Jawab Taehyung sambil mengeringkan tangannya yang habis dicuci.

Kenapa?”

“Aku baru saja dimaki-maki oleh pasien.”

Terdengar suara Yui tertawa. Hariku juga buruk.”

“Hm? Kau kenapa?”

“Kita bicarakan sambil makan malam saja, oke?”

Taehyung mengangguk sebagai jawaban, walaupun Yui tidak bisa melihatnya.

Dua puluh menit kemudian mereka sudah duduk berhadapan di sebuah warung kecil pinggir jalan. Makan malam bukan waktu yang tepat untuk makan besar, itu pemikiran Yui untuk tetap menjaga berat badannya. Berbeda dengan Taehyung yang selalu makan besar kapan pun ia sebut ‘waktu makan’, tidak peduli itu pukul 2 pagi sekali pun.

“Ceitakan paaku henhang haimu.” Ucap Taehyung tidak jelas karena masih banyak makanan terkumpul di mulutnya.

Yui menelan makanannya. “Tadi ada seorang siswa yang membuka rokku.”

Taehyung tersedak tidak lebih dari satu detik setelah pendengar pernyataan Yui. “Apa? Ukhuk….”

Bibir Yui mengerucut, lalu menyodorkan minuman pada Taehyung. “Dia memang nakal. Aku melaporkannya dan kepala sekolah setuju untuk mengeluarkannya minggu depan. Bagusnya memang itu yang anak-anak lain harapkan.”

“Lain kali biarkan aku bertemu dengannya, biar kuberi pelajaran dia.” Ujar Taehyung setelah batuknya reda.

Yui tersenyum tipis. “Kau mengkhawatirkanku?”

Mata Taehyung bergerak menatap sosok yang kini juga menatapnya dengan segaris senyum. “Apa?”

Yui terkekeh. “Tidak ada.” Batinnya senang dengan kalimat sederhana Taehyung tadi. Membuat dirinya merasa ‘berbeda’—merasa Taehyung tidak ingin dia terluka.

“Tadi aku lewat took souvenir, dan aku membeli ini.” Tangan Taehyung merogoh sakunya lalu mengambil sebuah bingkisan kecil.

Yui mengambil bingkisan itu dari tangan Taehyung. “Apa ini?” Yang ditanya tidak menjawab, tapi memberi isyarat agar ia membukanya. Sedetik kemudian mata Yui berbinar. “Wah, cantik sekali.” Senyumnya semakin melebar melihat sebuah kalung dengan liontin namanya, Yui.

“Baguslah kalau kau suka. Ngomong-ngomong, sudah malam. Udara semakin dingin. Ayo pulang, biar kuantar.”

Sekali lagi, Yui merasa dirinya berbeda bagi Taehyung.

*

Yui memandangi dirinya di cermin. Kalung putih yang melingkar di lehernya itu terlihat semakin mengkilap bila terkena sinar. Tak henti-hentinya ia tersenyum sendiri sampai pipinya pegal sendiri.

Akhir-akhir ini Taehyung sering menganjaknya makan siang bersama. Memang bukan hal asing lagi, karena mereka sudah sering makan bersama sejak kecil. Ya, mereka satu sekolah terus sejak SD sampai SMA. Baru berpisah saat perguruan tinggi, juga Yui yang lebih dulu lulus. Salahkan saja Taehyung yang lebih mengutamakan membaca komik dan bermain game daripada mengerjakan tugas kuliahnya.

“Yui, maaf hari ini aku tidak bisa makan siang denganmu. Aku ada operasi yang akan memakan waktu berjam-jam.” Ucap Taehyung di telepon.

Yui menunduk lesu, kecewa. Harusnya hari ini Taehyung melihatnya memakan kalung itu. “Tidak apa, semoga operasimu sukses.”

Tepat setelah sambungan telepon terputus, seseorang mengantarkan paket untuk Yui. Saat membukanya, wajah lesu Yui tadi berubah sumigrah melihat dua lembar kertas persegi panjang bersama sebuah note kecil. Malam Taehyung mengajaknya menonton pertunjukkan musik orchestra.

Kau pasti kecewa. Jangan begitu, kenakan baju yang bagus malam ini.’

*

“Wah, ternyata kau benar-benar pakai baju yang bagus.” Mata Taehyung memandang Yui dari ujung kaki hingga pucuk kepalanya.

“Kau menyuruhku begitu, kan?”

Mata Taehyung berhenti sejenak di leher Yui. “Kau cantik dengan itu.”

Cantik. Kau cantik. Dua kata dengan satu kata yang lebih ditekan, membuat Yui mengerjap seraya ingin menampar pipinya sendiri.

Bahkan setelah selesai menonton pertunjukkan itu, tangan Taehyung menggenggam erat tangan Yui. Apa ini kencan? Kencan pertama kita? Pikir Yui. Bisa iya, bisa tidak. Ia tidak menyangka Taehyung adalah pria yang romantis.

Sekarang mereka duduk bersebelahan di sebuah bangku taman dalam hening. Menikmati desiran angina musim semi yang mengalun perlahan membelai pori kulit. Terasa semakin damai karena jauh dari keramaian.

“Taehyung, kadang aku berpikir aku suka saat-saat kita seperti ini.” Kata Yui memecah keheningan.

Taehyung menoleh. “’Seperti ini’ yang bagaimana?”

“Seperti ini, duduk berdua. Hanya berdua saja.” Jawab Yui sambil memejamkan matanya, lalu menghirup napas dalam-dalam.

“Kalau begitu aku harus sering-sering mengajakmu berduaan.”

Tanggapan Taehyung membuat Yui terkekeh pelan. Kemudian suasana menjadi hening selama tujuh menit.

“Taehyung.”

“Hm?”

Mata mereka bertemu, cukup lama.

Yui menetap kedua manik coklat milik pria di depannya itu yakin. “Aku menyukaimu.”

Hening lagi. Tidak tahu harus menjawab apa, harus melakukan apa, bagaimana, Taehyung memilih untuk tetepa diam beberapa saat. Lalu ia menelan ludah setelah yakin dengan kalimat yang akan diutarakan. “’Menyukaiku… suka? Kau suka padaku? Suka… dalam artian bagaimana?”

“Aku menyukaimu sebagai pria.” Jawab Yui tak kalah yakin.

Kening Taehyung mengeriyit. “Aku… Yui, aku… aku tidak mengerti.”

*

Setelah kejadian malam itu, mereka tidak pernah bertemu satu sama lain lagi. Sampai suatu hari Yui menarik keluar paksa Taehyung yang sedang berbicara denganseorang perawat.

“Shin Yui, apa yang kau lakukan?!”

Gadis itu tidak menjawab. Ia memaksa Taehyung masuk ke mobilnya yang langsung melesat cepat ke rumah sakit. Ya, rumah sakit yang berbeda dari tempat Taehyung bekerja.

Mereka sampai di sebuah ruangan. Tertera nama Dr. Park Ji Min di pintunya.

“Masuk dan katakana tentang semua yang kau keluhkan. Semua.” Mata Yui menatap tajam Taehyung yang masih kebingungan dengan situasi ini.

“Ini maksudnya—“

“Jangan coba-coba kabur. Aku akan menunggumu sampai 6 jam sekali pun.”

Taehyung tak punya waktu untuk protes karena Yui mendorongnya masuk ke dalam ruangan, lalu menutup pintu. Ia berbalik, lalu menangkap seorang pria yang tidak terlalu tinggi mengenakan jas putih. Itu jas kedokteran, sama dengan yang dipakai Taehyung.

“Halo dokter Kim.” Sapa pria itu ramah.

Langkah Taehyung terlihat ragu saat mendekat ke arahnya. “Halo, dokter… Park.” Balasnya setelah melihat nama dokter itu.

“Saya Park Ji Min, dokter jiwa.” Pria bertubuh tak terlalu tinggi tadi membungkuk memperkenalkan diri. “Suatu kerhormatan dapat bertemu dengan dokter spesialis bedan seperti Anda, dokter Kim.”

Jiwa? Dokter jiwa?

“Silahkan duduk.” Jimin mempersilahkan Taehyung yang masih berdiri 2 petak lantai dari kursi pasien. ”Saya tahu, Anda tidak gila. Tidak apa, kita hanya akan membicarakan beberapa hal.” Segaris senyum kembali tercetak sempurna di bibir dokter jiwa itu.

Akhirnya Taehyung duduk di kursi pasien itu. Terasa aneh karena biasanya ia duduk berlawanan dari itu. Dokter jiwa itu tidak berhenti tersenyum. Bulu kuduk Taehyung jadi berdiri, porinya membesar merinding.

“Saya akan mulai dengan pertanyaan yang mudah. Dokter Kim, apa Anda masih punya orang tua lengkap?” Taehyung mengangguk sebagai jawaban. “Dan satu adik laki-laki, berdasarkan info yang saya dapat dari nona Shin.”

Shin? Shin Yui?

“Apa yang Anda rasakan terhadap mereka?” Lanjut Jimin.

“Rasakan?”

“Maksudku—begini, buat mudah saja. Apakah Anda pernah berkencan?”

Taehyung menyentung tengkuk lehernya. “Mengapa aku harus melakukan hal semacam itu? Memang apa untungnya?”

Tangan Jimin mulai mencatat di bukunya. “Lalu apakah Anda pernah menyukai seorang wanita?”

Taehyung terlihat berpikir sejenak. “Tentu,” Jimin hendak mencatat lagi, tapi terhenti dengan lanjutan Taehyung “Aku suka Shin Yui karena dia pintar menggambar, dan juga temanku sejak kecil. Dia juga sangat baik padaku. Kalau aku bilang tidak suka, dia akan sedih.”

“Anda menyukai Shin Yui. Bagaimana dengan Ibumu? Keluargamu?”

“Mereka… yah, sama saja. Sama seperti Yui. Ah, tapi adik kecilku begitu menyebalkan. Jadi aku sedikit tidak menyukainya.” Jawab Taehyung. “Tapi, kenapa Anda bertanya seperti itu?”

Jimin tersenyum. “Tugasku sebagai dokter.” Kemudian sibuk menulis lagi. “Anda telah bersama nona Shin selama sembilan belas tahun. Kudengar beberapa hari yang lalu ia menyatakan perasaannya pada Anda. Bagaimana pendapat Anda?”

Mata Taehyung membesar. “Itu juga yang ingin aku tanyakan. Apa maksudnya malam itu dia berkata ‘aku menyukaimu’, bukankah sudah jelas kita saling menyukai? Kalau tidak kenapa dia mau berteman denganku?”

Lagi-lagi Jimin tersenyum. “Baiklah, ini pertanyaan terakhir. Apa pendapat Anda tentang cinta?”

*

Mata Yui semakin sembab karena kurang tidur semalaman. Beruntung hari ini sekolah libur, jadi ia bisa istirahat seharian. Telepon yang terus bordering tidak membuat kepalanya keluar dari balik bantal. Tubuh mungilnya juga ia sembunyikan di balik selimut.

Beberapa detik kemudian, ia kluar dari persembunyiannya. “Baiklah, kalau itu satu-satunya cara.”

Gadis itu beranjak dari tempat tidur. Melakukan kebiasaan rutin paginya—mandi, sarapan, lalu sedikit berdandan. Melihat pantulan dirinya di cermin yang mengenakan kalung berliontin namanya sendiri semakin menguatkan niatnya untuk melakukan hal itu.

Tiga puluh menit kemudian, mobilnya sudah terparkir di depan sebuah rumah sakit.

Dokter Kim menderita Hypopituitarism. Itu adalah keadaan dimana seseorang tidak bisa merasakan suka—suka dalam artian cinta. Menyukai wanita dalam artian “suka”, bukan hanya sekedar suka karena kau baik padanya. Ia juga tidak mengerti bagaimana menanggapi rasa suka itu.”

Kata-kata Park Jimin kemarin lusa terus terngiang di kepalanya. Langkah Yui emakin jauh membawa e dalam rumah sakit. Matanya samar menangkap sosok Taehyung yang sedang duduk merenung dengan stetoskop di tangannya.

“Hei.” Sapa Yui canggung.

Kepala Taehyung mendongak. “Oh, kau. Hai.” Lalu ia berdiri.

Keadaan mereka sungguh kacau. Hanya karena sebuah pernyataan tentang perasaan, membuat hubungan mereka yang tadinya penuh tawa itu retak. Sangat sulit untuk menemukan lelucon yang tepat untuk mereka berdua.

Tiba-tiba saja tanpa ada aba-aba, tanpa kata atau kalimat pembuka, tanpa apapun. Yui mencondongkan tubuhnya ke depan Taehyung. Membuat jarak wajah mereka sangat sempit, hingga akhirnya mata gadis itu terpejam. Bibir mereka bertemu dalam waktu sepuluh detik.

Satu tetes air mata jatuh membasahi pipi Yui. Berbeda dengan Taehyung yang aneh dengan kegiatan mereka sekarang. Ia tidak tahu harus bagaimana. Matanya memang terpejam merasakan manisnya bibir Yui yang kini masih menempel pada miliknya.

Lima belas detik. Yui menjauhkan wajahnya dari Taehyung. Matanya terlihat lebih sembab dari sebelumnya. Begitu juga dengan Taehyung yang pipinya ikut basah oleh air mata Yui.

“Akan kutunjukkan padamu apa itu cinta.” Ucap gadis itu lirih.

*

“Kau tahu masalahmu?” Tanya Yui berusaha menghilangkan kecanggungan diantara mereka.

Taehyung mendengus. “Ya, tapi aku tidak mengerti.”

Jemari Yui menggenggam erat tangan Taehyung. “Saat aku menggenggam tanganmu seperti ini, apa yang kau rasakan?”

“Aku….” Taehyung berhenti sejenak. “Biasa saja.”

Gadis itu menunduk. “Kalau seperti ini?”

Mata Taehyung terbelalak mendapati dirinya sudah berada dalam pelukan Yui. Ia terdiam, tidak melakukan apapun. Yang dirasakannya kini hanyalah debaran jantung Yui yang terdengar jelas di telinganya.

“Shin Yui, eng, aku….”

“Tidak apa, pelan-pelan saja. Kau pasti bisa.” Melepaskan pelukannya, Yui tersenyum tipis pada pria di depannya itu.

“Aku punya satu pertanyaan.” Ucap Taehyung.

“Tanyakan saja.”

“Kau bisa merasakan cinta?”

Pandangan Yui beralih dari Taehyung ke hamparan rumput hijau di depannya. Senyum di bibirnya menyusut sedikit. “Tentu saja.”

“Bagaimana rasanya?”

Mata mereka bertemu lagi. Hening sejenak sebelum Yui menjawab pertanyaan kedua Taehyung. “Tentunya kau akan merasakan hal yang berbeda setiap bertemu dengan orang yang kau sukai—maksudku kau cintai. Yah, kita sedang berbicara tentang cinta.” Jeda sejenak. “Kau akan memikirkannya di sini,” Tangan Yui mengusap pelan kepala Taehyung. “Merasakan sesuatu yang aneh di sini,” Kemudian beralih memegang perut bagian atas Taehyung. “Dan benda di dalam sini, akan berdegup lebih cepat.” Terakhir, ia menyentuh lembut dada bidang Taehyung.

Mulut Taehyung terbuka, hendak mengatakan sesuatu tapi tertunda.

Yui tersenyum. “Katakan saja.”

“Em, Shin Yui….” Gadis itu memandanginya. Kedua manik hitam yang besar itu sering menarik perhatian Taehyung. Entah kenapa, sejak kapan, Taehyung menyukai mata itu.

“Hm?”

“Kalau aku mengatakan aku mencintaimu, apa kau akan percaya?”

Yui menutup mulutnya dengan telapak tangan, lalu tertawa terbahak-bahak.

“Kenapa kau tertawa? Apa pertanyaanku konyol?” Taehyung mem-pout-kan bibirnya.

“Tidak, hahahaha. Kim Taehyung, kau lucu sekali.”

Kemudian Taehyung ikut tertawa. Mereka terus tertawa bersama hingga lelah dengan sendirinya.

*

Akhir-akhir ini orang tua Taehyung bingung dengan tingkah anak sulungnya yang sedikit terlihat seperti mencari perhatian lebih dari mereka. Juga gerak-geriknya yang bisa dibilang mencurigakan. Taehyung sering terlihat mondar-mandir dari kamar, ruang tamu, dapur—hampir menjelajahi rumahnya.

“Taehyung-ah, apa ada masalah di rumah sakit?” Tanya Ibunya suatu waktu.

“Tidak, kenapa?” Jawab Taehyung menoleh sebentar lalu fokus pada ponselnya lagi.

“Kau tidak bekerja?”

“Hari ini aku libur.”

“Tidak keluar dengan Yui?”

Pertanyaan Ibunya itu berhasil menghentikan kegiatan mondar-mandir Taehyung. Yui. Sudah tiga hari terakhir mereka tidak saling kontak. Rasanya sedikit aneh, menggelitik satu dari empat bagian hatinya. Bilik kanan? Kiri? Serambi? Serambi kanan? Kiri? Entah. Dia yang dokter bedah saja tidak bisa mengetahui rasanya itu.

Taehyung berbalik menatap Ibunya yang sedang membolak-balikkan halaman majalah. Tiba-tiba ia duduk di sebelah Ibunya, mengambil alih majalah. “Ibu, apa artis ini cantik?” Tanya Taehyung sambil menunjuk foto seorang artis yang sedang berpose di salah halaman majalah.

“Krystal? Ya, dia cantik. Dan seksi. Kenapa? Kau menyukainya? Berhenti bermimpi.” Gurau Ibunya.

“Kalau ini?” Taehyung membalikkan halaman majalah, sedikit jauh dari halaman awal tadi.

Ibunya diam sejenak. “Karena Ibu seorang wanita, jujur saja dia tampan… dan seksi. Yah—Ibu mengatakannya sebagai seorang wanita.” Kemudian hening sejenak. “Tunggu, jangan katakana ini pada Ayahmu.” Ancam Ibunya sambil mengacungkan jari telunjuknya.

“Memangnya kenapa?” Tanya Taehyung polos.

“Tentu saja dia akan cemburu, memangnya apa lagi?”

“Cemburu?”

*

Taehyung berjalan riang dengan perasaan gembira. Tubuhnya seperti baru diisi penuh sehingga semangatnya bagus sekali. Pria itu berdiri di halte. Lima menit kemudian bisnya datang. Taehyung duduk di kursi sambil memandang keluar jendela. Senyum di bibirnya tidak berkurang sejak awal melangkahkan kaki dari rumah.

Bis berhenti di depan halte. Taehyung harus berjalan sekitar tiga menit untuk sampai di tempat tujuan. Ia mengenakan baju dan celana santai. Terlepas dari jas dokternya, Taehyung terlihat seperti remaja berusia sembilan belas tahun. Wajahnya yang baby face itu terkadang menipu orang-orang yang menganggapnya cute—bahwa kenyataannya pria itu berusia dua puluh lima tahun.

Senyum Taehyung lebih mengembang saat ia sudah tiba di tempat tujuan. Sebuah gedung sekolah menengah. Ia berjalan masuk lebih dalam ke gedung itu tanpa ragu sedikit pun. Ini adalah waktu makan siang, jadi banyak siswa berkeliaran di mana-mana. Taehyung hanya bisa tersenyum malu setiap ada siswa perempuan yang sedikit histeris saat lewat di depannya.

Tapi senyum itu memudar saat ia mendapati seseorang yang dicarinya sedang duduk bersebelahan dengan seorang pria. Wanita itu—orang yang dicarinya—tersenyum, tertawa, dan menunduk malu. Wanita itu memunggunginya, jadi ia tidak bisa melihat kehadiran Taehyung. Memangnya apa yang pria itu bicarakan sampai membuatnya tersenyum dan—

Menatapnya?

Tatapan itu, entah kenapa Taehyung tidak menyukainya. Wanita itu menatapnya dengan tatapan itu. Tatapan yang Taehyung kira itu hanya dimilikinya.

“Oh, Kim Tae Hyung!” Taehyung menoleh, ternyata wanita itu sudah berbalik dan mendapati kehadirannya. Sebisa mungkin Taehyung tersenyum padanya. “Sedang apa di sini?”

“Aku merindukanmu.”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Taehyung. Sekarang tenggorokannya terasa kering. Ia sadar ia baru saja mengatakan… mengatakan kalimat yang entah dari mana asalanya. Bagaimana makna dan maksudnya.

Wanita itu menaikkan alis. Garis senyumnya menyusut—sepertinya ia kaget.

“Ah, tidak. Lupakan saja. Hahahahah.” Taehyung tertawa kering. “Mengapa kau menatapku seperti itu? Memangnya apa yang kukatakan? Hahahahaha.” Taehyung tetap tertawa meski lawan bicaranya masih diam memandanginya. “Ya, Shin Yui.”

“Apa?”

“Eh?”

“Tadi kau bilang apa?”

Mata Taehyung beralih, berkeliaran di mana saja asal tidak bertemu dengan mata Yui. “Tidak ada—ah, aku ke sini karena….”

“Karena?” Alis Yui kembali terangkat lagi. Bibirnya menyunggingkan smirk yang membuat Taehyung sedikit merinding. Melihat reaksi Taehyung, Yui melanjutkan. “Kim Taehyung, telingaku tidak tuli.”

“Ah, bagaimana ya….” Tangan Taehyung bergerak ke belakang lehernya, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Jadi kau sudah bisa merasakan bagaimana merindukan seseorang?”

“Apa?”

“Itu bagus, peningkatan! Dan, oh! Apa aku adalah orang pertama yang kau rindukan? Wah, aku benar-benar tersanjung.” Yui melipat tangannya di dada. Mereka mulai berjalan menjauh. Tidak bagus membicarakan hal seperti itu di depan ratusan siswa yang mulai berbisik-bisik melihat guru mereka ditemu seorang pria cute. Membuat iri saja.

“Rasanya aneh.” Ujar Taehyung.

“Memang. Aigoo, kau benar-benar polos. Bertahun-tahun kita bersama, kau tidak pernah merindukanku? Wah, jahat sekali. Kau harus dihukum untuk itu.” Yui mem-pout-kan bibirnya.

“Kenapa?”

“Tentu saja itu tidak adil.” Mereka berhenti di depan sebuah bangku. “Karena aku selalu merindukanmu.”

Taehyung duduk. Memperhatikan wanita yang masih memunggunginya. Mengikuti arah pandangnya, ia sedang melihat para siswa yang sedang bermain basket di lapangan.

“Shin Yui.” Panggil Taehyung. Yui menoleh, lalu ikut duduk di sebelah Taehyung tanpa suara. “Sepertinya kau mengajariku dengan baik.”

“Apa?”

Taehyung menarik napas. “Aku menyadari ini sebelum dokter Park memvonisku mengidap Hypopituitarsm. Kau pernah mengatakan ini padaku dan sekarang aku mengerti.” Hening sejenak, mata mereka bertemu dengan nada cukup serius.

“Aku memikirkannya di sini,” Taehyung mengusap pelan kepalanya. “Merasakan sesuatu yang aneh di sini,” Kemudian beralih memegang perut bagian atas Taehyung. “Dan benda di dalam sini, berdegup lebih cepat.” Terakhir, ia menyentuh dada bidangnya.

Yui merasa de javu. Ucapan Taehyung, gerak-geriknya. Ia tidak menyangka pria itu mengingatnya dengan baik.

“Pelan-pelan saja, jangan anggap ini terlalu—yah, hanya terlalu. Kita hanya perlu melangkah ke depan dengan hati-hati.” Lanjut Taehyung.

“Kim Taehyung.”

Sebelum Yui melanjutkan kata-katanya, Taehyung lebih dulu mendekatkan wajahnya, lalu mengecup pucuk kepala Yui yang tertutup dengan poni.

Thank you for rading, kritik dan komentar sangat dihatrapkan ^^

this fiction also posted on sweetmaplestories

Iklan

2 thoughts on “[ONESHOT] Tell Me What is Love

  1. kayaknya author spesialis pemotong deh ya :3
    betewe typonya lumayan tuh, thor! salah satunya ‘memakan kalung ini’ 😀 ups hehe maaf hihi..
    sekali lagi keren ceritanya! ^^)d

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s