[ONESHOT] TOMORROW

cover 1 copy

“Myungsoo, coba ramalkan hariku esok.” Soojung duduk bertopang dagu, memandangi kekasihnya yang tengah memotong kayu dengan tangan.

Sinar mata Kim Myungsoo benar-benar tajam. Dua manik sipit itu punya kekuatan membunuh—benar membunuh. Minggu lalu, anjing kesayangan Soojung mati karena tatapannya.

Banyak gadis yang menggilai Myungsoo. Jika dihitung dengan tangan, akan dibutuhkan beberapa jari tambahan. Beruntungnya Soojung bisa mendapatkan hati pria pembunuh itu. Benar, beruntung. Dan Myungsoo sangat mencintai gadisnya.

“Kau akan terbangun pukul 9:13, sarapan dengan roti panggang yang gosong, tidak mandi dan langsung menelponku.” Jawab Myungsoo setelah berhasil mematahkan kayu kesembilannya.

Soojung menggerutu. “Kenapa rotiku harus gosong? Aku tahu aku tidak bisa memasak, tapi aku benci makanan gosong.”

Pria itu hanya mengedikkan bahu, tidak peduli. Tiba-tiba terdengar lonceng berbunyi, tanda ada orang yang datang.

“Hai Kim Myungsoo, bisa ramalkan hariku esok? Rencananya aku akan kencan dengan Victoria.” Suara seorang pria dengan topi koboi menggema.

Menghentikan aktivitas, Myungsoo mengabaikan pacarnya dan menghampiri tamunya. “Menyerahlah. Gadis Cina itu esok akan ditelpon mantan kekasihnya dan berlari ke bandara karena pria itu pulang dari Belanda.”

“Kau bercanda?”

Kaki Myungsoo menyilang, ia begitu santai sambil memperhatikan laba-laba yang melintas di lengannya. “Kau pernah merasa sial dengan ramalanku?”

“Tidak,” Jawab pria itu spontan. “Oh, apa laba-laba itu akan menjadi korbanmu selanjutnya?”

Bibir sang pembunuh merekah simpul, bola matanya bergerak tajam pada manusia di depannya. “Ya,” Jawabnya sambil menekan laba-laba, lalu mematahkan kedelapan kakinya satu-persatu. “Tapi aku lebih tertarik dengan manusia.”

Pria itu berniat untuk meluruskan kakinya, memaksa tubuhnya mengambil posisi orang berdiri. Sungguh, tubuhnya gemetar ketakutan. Ia tahu betul bagaimana Myungsoo kalau sedang menerka korbannya.

“Oh, kawan—buat ini pelan-pelan saja dengan kepala dingin.”

“Aku tidak tahu kita pernah berteman.” Kaki jenjang Myungsoo maju melangkah pelan.

Kedua pria itu berjalan satu arah, tapi dengan posisi yang berbeda. Naasnya, Myungsoo selangkah lebih cepat. Tidak aka nada yang menyangka dan masih akan menggemari Kim Myungsoo yang tega membinasakan tamunya sendiri. Myungsoo menusuknya dengan sumpit, lalu mematahkan telinganya.

“Oh?” Hanya itu reaksi Soojung. Gadis kecil itu sudah sangat terbiasa menyaksikan pembunuhan. Bahkan terkadang Myungsoo menyakiti panca indranya. Tapi tidak apa-apa. Soojung mencintai Myungsoo.

“Aku sudah mengincarnya sejak lama, tapi dia menyusahkan dan aku kasihan padanya.”

“Kasihan?”

Myungsoo mengangguk, lalu duduk di depan Soojung.

“Akan kau apakan telinga itu? Dan—oh, kau mengambil tangannya.” Tanya Soojung mengalihkan pembicaraan.

“Menjadikannya makan malam. Mau berbagi?”

Gadis itu menggeleng. “Aku lebih suka roti gosong.”

*

Sinar matahari menyengat panas walau dari jarak jutaan meter. Soojung tidak lagi memedulikan roti gosongnya yang masih terbaring manis di atas cangkir berisi susu segar. Langkah gadis itu bergerak cepat menuju gubuk di kebun belakang rumahnya. Napasnya terengah-engah melihat kekasihnya terbaring lemas di dalam sana.

“Kau membunuh anjingku, tapi kau selalu bersembunyi di sini.”

“Jangan banyak bicara dan cepat lakukan.” Perintah Myungsoo galak. Sebagian tubuhnya sudah mulai meleleh seperti lilin. Lelehan itu perlahan mengering, lalu menjadi abu berwarna darah.

Soojung dengan sigap mengumpulkan abu tersebut, lalu menghirupnya.

Senyum gadis itu merekah begitu melihat satu mata Myungsoo kembali tumbuh. Lubang hidungnya yang tadi tersumbat tulang juga sudah mulai berlubang. Satu yang belum sempurna, bibirnya.

“Kim Myungsoo, kau menyusahkan.”

Abu merah sudah habis, Soojung berhenti melakukan aktivitasnya. Ia menatap kedua mata Myungsoo, lalu jiwanya menjadi gelisah seakan tersedot oleh kedua lensa biru itu.

“Tapi aku mencintaimu.” Mata Soojung terpejam, lalu mengecup setengah bibir Myungsoo hingga bibir itu kembali seperti semula.

“Aku lupa mengatakan ini tanggal 21.” Ujar Myungsoo. “Tidak akan terulang lagi ditanggal 28.”

Soojung tersenyum manis. “Kau menjauhkanku dari roti gosong. Bagaimana kalau kita makan kerang?”

Pria itu menggeleng pelan. “Tangan pria yang kemarin itu gemuk. Dan semalam ada tiga kucing lewat di jendelaku.”

*

“Soojung, di mana pacarmu?”

Soojung yang sedang mengecat kukunya menjadi hitam menoleh, mendapati Fei—gadis penjual bunga di pinggir kota. Oh, rupanya salah satu penggemar Myungsoo.

“Pergilah, dia tidak sedang dalam suasana hati yang baik.”

Gadis dengan rok mini itu tidak mengindahkan perkataan Soojung. Ia lancang masuk ke dalam kamar Myungsoo sambil menenteng sebuket bunga. Tidak lebih dari semenit kemudian—

“Sudah kubilang, suasana hatinya sedang tidak baik.” Soojung hanya mengedikkan bahu ketika melihat sebuah kepala menggelinding dari kamar Myungsoo, kemudian lanjut mengoles kukunya dengan cat hitam.

Myungsoo keluar dengan percikan darah di wajahnya. “Kau mengecat kukumu lagi? Hitam?” Tanyanya sambil menendang kepala penggemarnya tadi. “Kubilang lepas saja, lebih bagus.”

“Myungsoo, aku tidak bisa menumbuhkan organku seperti yang kau lakukan.”

Pria itu tersenyum kecut. “Kau mencintai seorang pembunuh, Jung Soojung.”

“Ya.” Respon Soojung singkat.

*

“Berapa kali kau menyaksikan pembunuhan?” Kim Jongin, pria yang sangat tergila-gila dengan Soojung membuka topinya.

Gadis itu bersenandung kecil sambil menyusun jajaran semut yang membentuk piramida datar di piringnya. “Entalah. Aku harus meminjam jari seluruh warga Korea kalau mau menghitungnya.”

Jongin menyalakan rokok, lalu menghisap benda mematikan itu dengan nikmat. “Kau tetap menyukainya meski dia melakukan hal yang menjijikkan.”

Soojung mengangguk. “Myungsoo, makan siangmu.” Lalu ia menyerahkan sepiring piramida semut itu kepada pacarnya yang baru saja duduk bergabung.

Kedua mata Myungsoo menatap tajam pada Jongin. Ia sungguh tidak suka gadisnya tertawa dengan pria lain. Bahkan tidak jika Jongin wanita, Soojung bisa saja menjadi lesbian.

“Aku tidak menyentuhnya, sungguh.” Jongin mengangkat kedua tangannya.

Dalam waktu kurang dari enam puluh detik, Myungsoo sudah menghabiskan jutaan hewan kecil hitam di piringnya itu tanpa sisa.

“Soojung, besok tanggal 28.”

“Ya, aku tidak pernah lupa melingkari kalenderku.” Jawab Soojung sambil menyandarkan punggung ke tembok.

“Mungkinkah aku menjadi korbanmu selanjutnya?” Sambung Jongin.

Myungsoo tertawa renyah. “Ya jika aku mau,” Ia menggoyangkan telapak tangannya untuk mengusir asap rokok Jongin. “Tapi sayang sekali, aku sedang tidak ingin membunuh seorang pria.”

Jongin mengepulkan asap rokok. Keningnya mengeriyit memahami kata-kata Myungsoo.

*

Gubuk kecil yang alih fungsi menjadi mantan kandang anjing itu sudah penuh oleh butiran abu merah. Penghuninya sekarang tengah berteriak kesakitan. Pria itu meleleh seperti lilin. Suaranya meracau tak jelas menahan sakit. Hingga gadisnya datang, ia masih berteriak histeris.

“Myungsoo, tenanglah. Aku di sini.” Soojung segera bergegas menghisap abu yang mulai beterbangan itu. Napasnya kembali teratur setelah melihat sang pujaan hati menjadi normal.

“Kau terlambat.”

Soojung menidurkan kepalanya pada paha Myungsoo. “Tapi tidak biasanya kau berteriak. Bahkan sampai kau menjadi abu tanpa sisa pun, kau akan menungguku menghirupmu tanpa menimbulkan keributan.”

Pria itu diam. Menikmati saat-saat bersama gadisnya. Tak seorang pun boleh menyentuh Soojung. Myungsoo begitu terobsesi dengan gadis langsing itu. Mungkin ia akan gila kalau Soojung berani melihat pria lain.

“Myungsoo, besok kita akan pergi ke Australia. Ramalkan hariku?”

“Tidak, itu akan menjadi kejutan.” Jawab Myungsoo penuh misteri.

“Ayolah, untukku?”

Pria itu menatap teduh manik coklat gadisnya. Dalam diam ia memikirkan banyak hal. Sungguh, Soojung adalah nikotin baginya. Soojung adalah narkoba dan candunya. Tidak ada gadis seistimewa Jung Soojung bagi seorang Kim Myungsoo.

“Baiklah.” Akhirnya Myungsoo menyerah. Berdebat dengan Soojung tidak ada gunanya.

“Jadi, bagaimana hariku esok?”

Myungsoo diam sejenak. Mengumpulkan nyawa dan nyalinya untuk mengungkapkan fakta miris. Sejarah hidup Myungsoo, tidak ada kata bohong dan dusta dalam kamusnya. Ia menarik napas panjang kemudian menjawab—

“Tidak ada.”

Thank you for reading, kritik dan komentar sangat diharapkan ^^

This fiction also posten on sweetmaplestories

Iklan

4 thoughts on “[ONESHOT] TOMORROW

  1. hah? sumpah ini keren sekaligus bikin cengo 😮
    tapi ini sungguh keren!! tapi kenapa myungchu begitu sadis? :3

    • Iya Soojungnya mati. Kan sebelumnya Myungsoo bilang dia sedang tidak ingin mangsa seorang pria, jadi dia dimakan Myungsoo. Myungsoo… apa ya XD aku juga ga tau wahahaha. Ada pepatah, “Surealism dibuat bukan untuk diemengerti (?)” hahaha bebas deh ngira Myungsoo makhluk apa 😀
      Makasih ya udah baca dan komen ^^ hehehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s