[Ficlet] A Question

hqdefault

“Katamu kau tidak bisa datang,” Menyesap teh hangatnya, Soojung beralih pandang pada pria di depannya, Kang Minhyuk.

Minhyuk yang baru saja melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah milik Soojung yang disiapkan khusus untuknya, langsung menempatkan diri di sisi gadis berusia depalan belas tahun itu. “Kejutan.” Ujarnya sambil tersenyum manis.

Memutar bola mata, Soojung meletakkan kembali cangkirnya. “Kalau sudah begini, kau pasti ada maunya.”

Lelaki yang dua tahun lebih tua dari Soojung itu memamerkan deretan putihnya yang rata, membentung lengkungan yang Soojung sudah bisa menebak artinya. “Baiklah, katakan.”

Minhyuk sedikit menggeser duduknya sehingga menerong pada Soojung. “Aku…. Kemarin Se Na baru saja menyatakan cinta padaku.”

“Hmm, lalu?” Respon Soojung. Bisa dilihat daru raut wajahnya, ketertarikannya akan topik ini bisa dikatakan berkurang.

”Yah, dia—“

“Menyatakannya dengan mata mengerjap, suara manja, wajah imut, nada memohon agar kau juga merasakan hal yang sama dengannya. Akhirnya dia bertanya, ‘Apakah kau menyukaiku?’

Senyum di wajah Minhyuk semakin melebar, eyesmile-nya akan muncul kalau sudah begitu. “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Kau selalu mengatakannya setiap ada perempuan yang menyatakan perasaannya padamu. Dan Se Na… memang begitu orangnya,” Jawab Soojung. “Oh ya, kemarin saat kubilang aku menangis meraung-raung, kau tidak datang.”

Wajah Minhyuk yang semula terlihat bahagia, kini mulai mendatar. “Ah, itu… bukankah aku sudah bilang aku ada janji makan malam dengan keluargaku.”

Soojung mengangguk-angguk. “Ah, kemarinnya saat kubilang aku akan mendekorasi ulang apatemenku, kau juga tidak datang.”

Minhyuk menyerong duduknya sehingga terhindar dari tatapan Soojung. “Itu… kan, aku sudah bilang sebelumnya, kalau aku harus ke kantor ayahku, untuk sebuah urusan….”

Fine. I get it. Kau hanya ada disaat kau butuh saja, right?”

“Bukan, bukan itu maksudku. Tapi kalau aku tidak punya janji, aku pasti datang.”

Soojung tersenyum masam. “Kau tahu pepatah ‘Terkadang, teman itu seperti bayangan. Terlihat saat cerah, tapi tidak saat gelap.’”

Minhyuk menghela napas panjang. “Sudah kubilang aku punya janji, Jung Soojung.”

“Tapi aku benar, kan?”

Hening sejenak, kemudian, “Ya, kau benar. Pepatah itu benar.”

Karena jawaban Minhyuk tersebut, masamnya lengkung bibir Soojung samakin menjadi.

“Tapi… kau bukan temanku. Dan aku memang membutuhkanmu,” Mendengarnya, kening Soojung mengerut. “Aku tidak pernah menceritakan kisahku kepada orang lain, dan aku selalu datang padamu. Karena aku memang membutuhkanmu.”

Satu pertanyaan yang ingin Soojung tanyakan pada Minhyuk. Pertanyaan yang sama seperti kebanyakan gadis yang menyatakan perasaannya pada lelaki itu. Pertanyaan yang cukup memalukan untuk diungkapkan, tapi sulit untuk hanya dipendam. Karenanya, Soojung hanya menatap dalam mata Minhyuk.

Sepersekian detik kemudian, Kang Minhyuk tersenyum tipis kemudian mengangguk sebagai jawabannya.

Terimakasih buat siapa aja yang udah baca. Mohon komentarnya ya, kritik dan saran boleh banget ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s