[TWOSHOT] AMLERETON – Chapter 1

editen by me

editen by me

“Hoi, Kim Myungsoo!”

“Selamat pagi.” Sapa lelaki bernama Myungsoo.

“Ada apa denganmu? Tidak biasanya menyapa dengan ramah begitu.” Canda Nam Woohyun sambil menepuk punggung temannya itu.

“Aku juga ingin menjadi anak yang ramah.” Ujar Myungsoo sambil tertawa renyah. “Oh, aku mau curhat.”

“Curhat?”

“Yah, anggap saja begitu.”

Woohyun tertawa keras. “Memangnya kau ini wanita?”

“Aih, dengarkan dulu.” Setelah Woohyun mengangguk, Myungsoo memulai ceritanya. “Jadi, sku baru saja mendapat sasaran.”

Woohyun mengerutkan kening. Hening sepersekian detik, lalu tersenyum nista seolah mengerti maksud Myungsoo.

“Kau memang temanku.” Satu tarikan napas sebelum Myungsoo melanjutkan. “Aku belum bertemu dengannya, tapi dia ramah. Polos sekali, yah, seperti anak SMP.”

“Kalian berkirim pesan?”

Myungsoo mengangguk. “Dia bilang dia sekolah di sini, tapi tidak mau menyebutkan kelasnya. Susah sekali membujuknya.”

“Lalu?”

“Kurasa dia tahu aku karena mengatakan aku ini populer—ya aku memang populer. Resiko orang ganteng memang beigtu ya.”

Mengubah posisi duduknya ke depan, ekspresi Woohyun mendatar. Dia sudah bosan mendengar kata-kata penuh percaya diri temannya itu. Tapi ada untungnya juga bermain dengan Myungsoo, karena dia jadi ikut populer.

“Mau dengar lanjutannya tidak?”

“Ya, baiklah.” Ujar Woohyun akhirnya menyerah.

“Tidak ada, setelah itu dia tidur.” Lalu Myungsoo tertawa keras sekali.

Woohyun yang merasa dibodohi langsung menjitak kepala Myungsoo sebelum guru Kim datang.

Seharan selama pelajaran berlangsung, satu hal yang tidak disadari Myungsoo adalah ada sepasang mata yang terus mengintainya di belakang. Tatapannya agak susah diartikan. Entah kerinduan atau rasa benci, yang jelas ia sangat menginginkan sosok Kim Myungsoo.

*

Namanya Jung Soojung. Gadis yang pendiam, selalu berjalan dengan kepala menunduk, jarang tersenyum, dan jarang bicara. Tidak ada yang mau berteman dengannya. Sialnya, dia selalu mendapat peringkat pertama di kelas.

Tatapan Soojung yang selalu suram kadang membuat merinding siapa saja yang berbicara dengannya, mengingatkan mereka pada tokoh Kuronuma Sawako di film Kimi Ni Todoke yang dipanggil Sadako. Bedanya, poni Soojung tidak sejajar lurus di depan, jadi ia tidak mirip Sadako.

Malam ini monoton dengan hari-hari sebelumnya. Soojung hanya duduk di ranjangnya sambil mengotak-atik ponselnya. Bedanya, kali ini ada sesuatu yang menyenangkan untuk dikerjakan.

Ponsel itu bergetar pendek, menandakan ada pesan yang masuk.

“Mau sampai kapan kau tidak memberitahuku namamu?” Begitu isi pesan yang terdapat di layar ponselnya. Dari nama kontaknya tertera huruf K.

“Sampai kau menyadari keberadaanku.” Balas Soojung.

Tiga puluh detik kemudian, “Kau curang sekali. Aku yakin saat jam makan siang kau selalu memandangiku diam-diam.”

“Memang iya. Saat kau belajar di kelas pun juga.”

“Nyalimu besar juga ternyata.”

“Sampai jumpa di sekolah.”

Setelah itu, tidak ada balasan dari K.

*

Mata Woohyun membulat setelah mendengar ‘curhatan’ Myungsoo. “Dia bilang ‘sampai bertemu di sekolah’?” Myungsoo mengangguk. “Di mana?”

“Hah? Oh, aku tidak menanyakan itu….”

Sambil membuang napas panjang, Woohyun kembali meluruskan duduknya. “Payah kau, bagaimana kalian akan bertemu?”

“Woohyun, ayo makan.”

“Huh? Kapan kau mau makan makanan sekolah?”

“Ayolah, kali ini saja. Masakan Ahjumma itu ternyata enak.” Tanpa meminta persetujuan temannya, Myungsoo sudah main tarik tangan Woohyun ke cafeteria sekolah.

Selama makan siang, mata Myungsoo tidak bisa diam. Kedua manik sipit itu terus berjelajah. Namun yang dilihatnya hanyalah hal biasa: anak-anak yang sedang makan sambil sesekali bersenda gurau.

Beberapa saat kemudian, “Uhuk uhuk… uhuk….” Tiba-tiba Myungsoo tersedak.

“Kenapa?” Tanya Woohyun yang sudah peka dengan tingkah tidak biasa Myungsoo dari tadi.

“Woohyun, kau tahu Soojung?”

Woohyun meletakkan sumpitnya. “Gadis pendiam itu, kenapa?”

Setelah menghabiskan air minumnya, napas Myungsoo sedikit memburu. “Aku… baru saja bertemu pandang dengannya.”

“Apa? Hahahahahahaha! Wah, daebak.” Tawa Woohyun nista.

“Katanya… ada gosip yang beredar bahwa kalau menatap matanya selama tiga detik, akan terkena kutukan….” Ujar Myungsoo dengan nada tidak santai.

Woohyun terkekeh. “Ei, itu hanya gosip. Memangnya di kelas pernah ada yang kena kutukan? Bahkan gerakannya di kelas sangat kecil, mungkin nyamuk saja tidak tahu. Dia juga manusia. Mana mungkin punya kekuatan seperti itu. Dia juga tidak mirip Sadako. Kau ini terlalu banyak nonton film.”

“Woohyun.”

“Hm?”

“Coba tengok ke belakangmu.”

Hening sejenak. Perlahan, kepala Woohyun memutar sembilan puluh derajat. Tiaba-tiba jantungnya berdegup kencang. Ia tak bisa mengatur napasnya karena beradu pandang dengan gadis yang tadi tak sengaja ia bela, Jung Soojung.

Woohyun yang perasaannya tidak enak langsung beranjak meninggalkan kantin tanpa mengucap sepatah kata pun.

Myungsoo gelagapan. Soojung masih menatapnya ngeri. “Hei, Nam Woohyun! Tunggu!” Teriaknya.

*

Malam kedua bagi Soojung untuk mengerjakan ‘sesuatu yang menyenangkan’. K mengirimnya pesan lebih dulu.

“Hai Nona Tanpa Nama.”

“Tanpa nama?”

“Karena kau tidak mau menyebutkan namamu. Memangnya kau tahu namaku?”

“Tentu saja, Kim Myungsoo.”

“Kalau begitu, namamu?”

“Rahasia.”

Soojung tetap pada pendiriannya, tidak mau mengungkapkan identitasnya sampai Myungsoo benar menyadari kehadirannya. Kejadian di cafeteria tadi cukup menyenangkan bagi Soojung. Bahkan setelah Myungsoo dan Woohyun lari terbirit-birit karenanya, Soojung masih bisa tersenyum.

Benar, Jung Soojung yang jarang sekali tersenyum saat itu tersenyum karena Kim Myungsoo berlari meninggalkannya.

“Kau suka jual mahal, ya.”

“Begitulah kata orang-orang.”

“Boleh aku menebak?”

“Silahkan.”

“Rambutmu panjang?”

“Ya.”

Myungsoo menyebutkan semua tebakannya, Soojung hanya menjawab ‘ya’ untuk setiap pertanyaan. Monoton memang, tapi semua tebakan Myungsoo benar.

“Besok sepulang sekolah, buka lokermu. Aku akan menaruh sesuatu di sana.” Pesan Soojung.

“Kau meu memberiku surat cinta? Yah, itu bisa sekali terjadi padaku.”

“Lalu kau mau apa?”

“Ah tidak. Aku ini pria, masa mengarang hadiah.”

“Katakan saja.”

“Sampai jumpa besok di sekolah.”

Obrolan merka berakhir sampai di situ. Di ujung yang berbeda, Myungsoo tengah menebak-nebak Gadis Tanpa Nama tersebut. Sempat terbesit di pikirannya tentang Jung Soojung. Buru-buru ia mengenyahkan pikirannya yang tidak-tidak itu, lalu pergi tidur.

*

Seharian ini, Myungsoo tidak bisa konsentrasi dengan pelajaran. Kepalanya hanya penuh dengan jam pulang. Woohyun yang memerhatikan tingkah sahabatnya itu hanya geleng-gelang kepala saja.

Baru setelah jam pulang, Myungsoo terus senyam-senyum di depan lokernya. Setelah semua murid keluar dan hanya tersisa Woohyun, ia membuka lokernya. Pertama-tama tidak ada yang aneh. Hanya beberapa buku yang Myungsoo tinggal di sana.

Namun yang berbeda, di antara buku-buku itu, terselip sebuah amplop merah muda dengan sebatang Lollipop. Sambil tersenyum lebar, Myungsoo mengambilnya. Woohyun berusaha mengintip apa yang tertulis di bagian belakang amplop itu, tapi apa boleh buat karena Myungsoo bilang dia akan membacanya di rumah.

Sekitar pukul delapan malam Myungsoo baru sampai di rumha. Setelah mandi dan makan malam, ia langsung terjun ke kasurnya. Perasaannya tak tentu memandangi surat yang dikirim oleh penggemar rahasianya.

“Hi stranger,
It’s been a long time for me to seeing you
Pay attention to your behavior
I even memorized the tone of your steps.

NN—”

Jujur saja, baru kali ini Myungsoo mendapat surat cinta. Saking senangnya, dia sampai tertawa terbahak-bahak lama sekali. Ya, terbahak-bahak. Bahkan air matanya sampai mengalir.

Kalau dilihat dari kata-katanya dalam surat itu, si Gadis Tanpa Nama rupanya cukup puitis. Dibawahnya terdapat tanda NN, entah itu inisial namanya atau singkatan dari No Name, Myungsoo tidak begitu peduli.

Sambil membuka Lollipopnya, Myungsoo mengetik sesuatu di ponsel.

“Kau cukup berbakat di bidang sastra, ya.”

Dua menit kemudian, Gadis Tanpa Nama menjawab, “Tidak juga. Aku menulis itu selama pelajaran berlangsung.”

“Sudah kuduga. Anyway, NN itu inisial namamu?”

“Rahasia.”

Myungsoo menggerutu. “Ah, gadis ini, suka sekali bermain petak umpet.” Racaunya.

“Besok sepulang sekolah, aku akan menulis lagi untukmu.”

“Lagi? Kau bahkan memberiku Lollipop. Aku harus membalasnya, bagaimana?”

“Tidak apa, sampai bertemu di sekolah.”

“Tunggu, kapan kau memasukkannya ke dalam lokerku? Aku bahkan tidak keluar untuk makan siang.”

“Rahasia.”

*

Sama seperti hari sebelumnya, Myungsoo hanya memikirkan jam pulang sekolah. Woohyun terbahak-bahak setelah mendengar isi dari surat cinta Myungsoo kemarin. Selama tujuh tahun berteman, Woohyun tahu betul sahabatnya yang populer di kalangan para gadis itu hanya sering mendapat hadiah, bukan surat cinta.

Karenanya—menurut Woohyun—si gadis NN itu harusnya merasa sepesial karena ia adalah orang pertama yang mengirim Myungsoo surat cinta, sampai membuat Myungsoo bahagia.

“Aku tidak akan memaksanya memberitahu namanya padaku, suatu saat dia pasti akan kalah dan menemuiku lebih dulu.” Uja Myungsoo percaya diri sambil membuka lokernya.

“Kau tidak boleh terlalu berharap seperti itu. Bagaimana kalau dia ternyata sudah punya pacar? Bagaimana kalau dia hanya mempermainkanmu?” Tanya Woohyun sedikit prihatin.

“Nam Woohyun, kau tahu kan, aku ini playboy. Mana mungkin aku jatuh hati dengan satu wanita.”

Dalam loker itu, terdapat amplop merah jambu, kali ini dengan sebatang cokelat.

Myungsoo tersenyum, lalu memasukkan dua hadiahnya ke dalam tas.

*

“Your sharp eyes
Your pointed nose
You lips which always smiling
I memorized every inch of your body.

NN—“

Membacanya, Myungsoo tersenyum. Entah kenapa, gadis ini memberikan sensasi berbeda. Biasanya Myungsoo tidak peduli dengan hadiah-hadiah yang ia terima dari penggemarnya. Tapi si NN ini berbeda.

Myungsoo lansung mengirim pesan pada NN.

“Kali ini aku tidak akan bercanda lagi. Bisakah kau menyebutkan namamu?”

“Untuk kali ini, tidak bisa.” Jawab NN semenit kemudian.

“Kenapa? Apa ruginya? Kita bisa bertemu, dan berhubungan dengan layak. Kau tahu, kalau seperti ini, kita seperti selebriti yang pacaran secara backstreet.”

“Aku lebih suka seperti itu.”

“Aih, kau bahkan bukan selebriti.”

“Tapi kau selebriti.”

Myungsoo menganguk-angguk. Benar juga, ia selalu merasa bahwa adalah artis karena sangat populer di sekolahnya.

“Mau bertemu?” Tanya Myungsoo penuh harap.

“Tunggulah sebentar lagi, kita pasti bertemu.”

“Apalagi yang kau tunggu? Aku bahkan belum membalas hadiahmu.”

“Jangan seperti itu, kau bahkan tidak pernah peduli dengan hadiah yang gadis-gadis itu berikan. Kadang kau kejam karena memberikannya pada temanmu, tanpa memikirkan perasaan mereka yang memberikan itu padamu.”

Kening Myungsoo mengerut, kemudian ia menghela napas panjang.

“Begitu ya dari pandangan wanita? Baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi. Jadi, apa yang kau tunggu sebelum kita bertemu?”

“Rahasia.”

*

Di tempat yang berbeda, Jung Soojung tersenyum nanar menatap layar ponselnya. Obrolannya dengan Myungsoo akan berakhir saat itu. Setelah Myungsoo menjawab ‘Sampai bertemu di sekolah.’, ia tak membalasnya lagi.

Kegiatan Soojung bertambah. Ini kali yang ketiga baginya menulis surat untuk Myungsoo. Tak perlu kalimat yang berbelit-belit hingga memeras otak. Soojung hanya perlu menuliskan beberapa baris kalimat yang terlihat ‘sedikit manis’ agar Myungsoo penasaran dengannya.

Namun kali ini ia tak perlu menuliskannya panjang-panjang. Satu kalimat saja cukup. Setelah yang ini, mungkin ia tidak akan menulis surat lagi untuk Myungsoo.

Satu sentuhan lagi sebelum surat itu dimasukkan dalam amplop, Soojung membubuhkan tanda tangannya sebagai ‘NN’ di bagian bawah kertas.

*

“Bagaimana surat keduanya?” Tanya Woohyun sambil mengemasi barang-barangnya.

Sambil memasukkan buku teraktir ke dalam tas, Myungsoo menjawab, “Tidak jauh beda dengan yang kemarin, dia masih memuji-mujiku.” Kemudian ia memberikan surat dari NN itu pada Woohyun.

Setelah membacanya, Woohyun mengerutkan keningnya. Ia merasa tidak asing dengan tulisan tangan itu. Tiba-tiba lehernya merinding.

“Kenapa?” Tanya Myungsoo sambil merebut suratnya.

“Ah, tidak. Tidak apa.” Jawab Woohyun dengan nada rendah.

“Mari kita lihat kali ini dia mengatakan apa.” Myungsoo beranjak dari tempat duduknya. Tapi melihat Woohyun dengan tatapan kosong, ia menunggu sejenak untuk berjalan ke lokernya.

“Kau sakit?” Tanya Myungsoo. Tapi yang diajak bicara masih asyik dengan pikirannya. “Hei, Nam Woohyun?”

“Eh? Oh, ya, ayo pulang.” Sadar Woohyun dari lamunannya.

Myungsoo berjalan gontai menuju lokernya, tapi langkahnya terhenti sejenak. Woohyun yang masih ganjil dengan pikirannya tak sengaja menabrak punggung Myungsoo. Mereka berdua sama-sama menelan saliva masing-masing, hampir bersamaan.

Sejenak, Myungsoo lupa dengan tekadnya yang tidak sabar untuk membuka lokernya. Hal yang menghentikan langkah kedua lelaki itu adalah,

“Jung… Soo… Jung,” Ucap Myungsoo terbata. “Eh, a-apa y-yang kau lakukan di… di sini?”

Woohyun sama takutnya dengan Myungsoo. Soojung, gadis itu berdiri di depan loker Myungsoo.

Hening. Sejenak, atmosfer menjadi begitu dingin seiring berhembusnya angin melalui jendela yang belum ditutup. Membuat bulu kuduk Myungsoo dan Woohyun berdiri, hingga keningnya meneteskan peluh.

Soojung mengangkat kepalanya, membuat Myungsoo mundur selangkah.

“Aku tugas piket hari ini. Seharusnya bersama kau, tapi kau boleh pulang duluan. Aku bisa mengerjakannya sendiri.” Ujar Soojung datar. Satar sekali. Kemudian ia berjalan dan menutup jendela.

Napas Myungsoo memburu. Buru-buru ia mengambil amplop merah muda dari lokernya, lalu menutupnya paksa. “T-terimakasih. Minggu depan aku yang akan piket seharian penuh. Eh, sel-selamat malam.” Setelah mengucapkan itu, Myungsoo langsung lari terbirit-birit meninggalkan kelas, diikuti Woohyun yang mengekor di belakangnya.

Tanpa disadari salah satu dari mereka, Myungsoo menjatuhkan bunga mawar yang seharusnya ia bawa bersama surat itu.

Selesai membereskan kelas, Soojung menemukan mawarnya terjatuh. Ia hanya tersenyum, lalu meletakkan mawar itu di loker Myungsoo lagi.

Namun saat perjalanan pulang ke rumah, Soojung yang harusnya bahagia karena akan segera memberitahu identitasnya kepada Myungsoo justru dihadapkan dengan pemandangan yang tak seharusnya ia lihat.

Kim Myungsoo, lelaki yang telah dipujanya selama tiga tahun terakhir. Lelaki yang hampir tidak pernah terlibat hubungan dengan gadis mana pun, lelaki yang hanya suka bermain. Dalam tangkapan lensanya, lelaki itu, Kim Myungsoo, sedang berciuman dengan seorang gadis. Bisa dibilang, itu bukan sekedar ciuman biasa.

Soojung tak melihat Woohyun di mana pun. Mungkin dia sudah pulang duluan. Dari pada menyaksikan pemandangan menyakitkan itu, Soojung langsung berjalan cepat meninggalkan sekolah.

To be continued!
Bagi siapa pun yang baca, mohon komentarnya ya ^^ kritik dan saran snagat diharapkan 😀
Maaf kalau ada typo dan salah kata, author juga manusia 😀
Thanks for reading ^^

Iklan

One thought on “[TWOSHOT] AMLERETON – Chapter 1

  1. Ping-balik: [TWOSHOT] AMLERETON – Final Chapter | — this is my world —

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s