[TWOSHOT] AMLERETON – Final Chapter

editen by me

editen by me

Read: Chapter 1

“Will you notice me?

NN—“

Myungsoo tersenyum. Tak sabar ia ingin segera berkirim pesan dengan NN.

“Apa kabar?” Sapanya.

Tapi sudah sepuluh menit berlalu, ponsel Myungsoo tidak menunjukkan tanda-tanda ada pesan baru. Akhirnya ia mengirim pesan lagi.

“Hei, Gadis Tanpa Nama.”

“Ada apa?” Balasnya kurang dari tiga puluh detik.

“Waw, kau sengaja tidak membalas pesanku ternyata.”

“Aku tahu kau akan menanyakan namaku lagi.”

“Mamang benar. Tapi aku sudah tahu jawabanmu.”

“Rahasia.”

“Bingo.”

“Kau sudah memikirkan perasaan mereka?”

“Siapa?”

“Gadis-gadis itu.”

“Memangnya kenapa?”

“Tidak ada. Sampai bertemu di sekolah.”

“Kau selalu mengatakan itu, tapi kita tidak pernah bertemu.”

“Kita bertemu. Selalu bertemu.”

Sejenak, Myungsoo merasa ada yang aneh dengan gadis ini. Kalau pun mereka bertemu, hanya Myungsoo yang tidak menyadari pertemuan mereka. Dan hal itu sunggu tidak adil baginya.

*

Pagi hari di sekolah, Myungsoo datang lebih awal dari biasanya. Sebelum menempatkan diri di tempat duduknya, ia melihat pintu lokernya terbuka. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Namun lengkungan itu segera menyurut saat menemukan setangkai mawar di lokernya.

Bukan mawar yang indah. Melainkan mawar yang sudah hancur, batangnya pun patah.

Seolah menganggap itu hal iseng dari teman-temannya, Myungsoo lansgung membuang bunga tersebut.

Siang hari saat jam makan, mata Myungsoo kembali mencari sosok NN. Tapi nihil, hasilnya masih sama dengan terakhir kali ia melakukan hal itu.

“Bagaimana surat ketiganya?” Tanya Woohyun.

Myungsoo menggeleng lemah. “Aku sungguh tidak mengerti dengan gadis itu.”

“Hm? Kenapa?”

“Aku merasa… sedikit aneh.”

Woohyun meminum air putihnya. “Hei, kau kira aku tidak? Kalau diperhatikan, tulisannya tidak asing.”

Myungsoo terdiam sesaat. “Tadi pagi aku menemukan mawar yang sudah hancur, dan lokerku terbuka lebar.”

“Dari gadis itu?”

“Entah, tapi kemarin dia hanya meninggalkan surat, tanpa apa pun.”

Tanpa sadar, dengan pandangan Myungsoo yang kosong, sebenarnya ia mengarah kepada Soojung yang duduk dua meja di depannya. Soojung juga terlihat memandanginya kosong. Setelah sadar, napas Myungsoo tercekat. Buru-buru ia meninggalkan kafeteria tanpa memedulikan Woohyun.

*

Soojung merebahkan diri di kasur. Sejenak sambil memejamkan mata, ia mengingat saat Myungsoo berciuman dengan gadis itu. Bayangan yang sangat ingin dihapusnya itu justru malah menyiksa batinnya terlalu dalam. Sebelumnya, Soojung belum pernah merasakan sakit seperti ini. Bahkan saat ia harus menerima kenyatakaan bahwa tak satu pun anak di sekolah yang mau berteman dengannya.

Saat Soojung perlahan terbang menuju alam mimpi, tiaba-tiba ponselnya bergetar pendek.

Pesan dari Myungsoo.

“Sudah tidur?”

Soojung menatap sayu layar ponselnya. Sebenarnya ia tak berniat untuk membalas pesan itu, tapi hatinya berkata lain.

“Belum.” Jawab Soojung.

“Em, aku tahu ini tidak sopan, tapi aku ingin bertanya. Apa kau yang meletakkan mawar di lokerku?”

Mengingat sehari yang lalu, Soojung memang berniat memberikan setangkah mawar kepada Myungsoo. Namun karena kesalahan Myungsoo sendiri yang menjatuhkannya, Soojung jadi meremas mawar itu dan menaruhnya sembarangan di loker Myungsoo.

“Tidak.” Dusta Soojung.

“Ah, maaf. Tadi pagi ada yang meletakkan mawar hancur di lokerku.”

“Ah, begitu rupanya.”

“Kukira itu kau, maaf telah menuduhmu.”

“Mungkin itu dari salah satu penggemarmu yang merasa terkhianati.”

“Maksudmu?”

“Tidak apa. Jangan terlalu dipikirkan.”

“Baiklah. Sampai bertemu di sekolah.”

*

Seharusnya hari ini Soojung bisa memaafkan Myungsoo. Bagaimana pun, dia juga lelali yang bisa mencintai wanita mana pun. Itu terserah Myungsoo. Lagi pula Soojung bukan siapa-siapa untuknya. Gadis itu tak punya hak untuk cemburu.

Tapi entah mengapa, sakit hati yang Soojung rasakan begitu membekas. Bahkan mungkin ia tak punya lagi niat untuk memaafkan Myungsoo. Lelaki itu begitu manis dan berlaku selayaknya aku-hanya-menyukai-dirimu-karena-itu-ayo-kita-bertemu selama mereka berkirim pesan. Tapi berbeda dengan kenyataan di sekolah, Myungsoo benar-benar seperti payboy murahan. Sudah tiga hari ia menemukannya berciuman dengan tujuh gadis yang berbeda.

Kim Myunsoo, tak ada lagi maaf untukmu.

Yah, hal semacam itu yang Soojung pikirkan.

Hari ini Myungsoo terlihat begitu bahagia. Entah apa penyebabnya, ia tertawa sepanjang hari. Woohyun yang selalu menempel bak permen karet itu juga turut bahagia. Sepertinya hidup mereka tak ada beban sama sekali. Setahu Soojung, Nam Woohyun juga termasuk dalam jajaran cowok populer di sekolahnya.

Hingga jam pulang sekolah, Soojung yang biasanya keluar setelah semua anak pulang, kini keluar lebih dulu. Ia berjalan seceoat mungkin menuju halte.

Sedangkan di sekolah, Myungsoo masih bercanda dengan Woohyun. Kemudian ia berjalan gontai menuju lokernya. Namun yang terjadi adalah—

“AAAAAAAH!” Teriak Myungsoo.

Beberapa anak yang masih ada di kelas terlonjak kaget. Seekor Tarantula terlihat meloncat keluar dari loker Myungsoo. Beberapa gadis menjerit dan bersembunyi di balik tubuh teman lelaki yang ada di dekatnya.

Myungsoo yang jatuh di tempat lantas mengesot mundur. Tapi Tarantula itu merayap cepat mendekati Myungsoo.

“Woohyun! Nam Woohyun! Tolong aku!” Teriak Myungsoo histeris.

Woohyun yang panik tengah mencari sesuatu yang panjang, agar bisa digunakan untuk memukul hewan berbulu tersebut. Tapi karena saking paniknya Woohyun, ia tidak bisa menemukan cara itu.

Sementara Tarantula itu semakin dekat dengan Myungsoo yang sudah mepet dengan tembok. Tak ada tempat lagi untuknya menjauh. Bodohnya, Myungsoo tidak berpikir untuk berdiri lalu melompatinya. Toh, itu ‘hanya’ seekor laba-laba.

Sang Tarantula semakin mendekat. Kini ia sudah menjamah kaki Myungsoo. Air mata lelaki malang itu mengalir. Anak lain terlalu takut untuk mendekat, sehingga mereka hanya menjadi penonton.

“IBU! IBU! Tolong aku! AAAAAAAH—“ Teriakan Myungsoo berhenti. Rasa geli campur takut yang tadi dirasakanya mendadak sirna. Matanya terbuka sedikit, ia mengintip. Tarantula itu tak lagi bergerak.

Ketika mata Myungsoo sudah terbuka sempurna, napasnya yang masih terengah-engah kembali diuji dengan kehadiran Soojung di hadapannya. Gadis itu menacungkan pisau penuh darah padanya.

Rasanya seperti Myungsoo ingin mati saja.

“Jung… S-soo-jung….”

“Bodoh. Lelaki macam apa kau yang takut dengan laba-laba?” Adalah kalimat pertama yang Soojung ucapkan sambil memandang kedua mata Myungsoo. “Kalau kau seperti ini, bagaimana kau akan menjaga pacarmu yang dikeroyok penjahat?”

Kelas masih hening. Myungsoo masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Terlebih ketika Soojung menjatuhkan pisaunya hingga menimbulkan bunyi nyaring dan membuat darah Tarantula itu berceceran di mana-mana.

“Bersihkan.” Ujar Soojung kemudian pergi begitu saja.

Soojung tak habis pikir. Mengapa ia harus bersusah payah kembali ke sekolah hanya untuk menyelamatkan Myungsoo? Bukankah sudah niatnya dari awal meletakkan Tarantula itu di loker Myungsoo, untuk menakut-nakutinya? Atau lebih tepat dibilag untuk balas dendam atas rasa sakit hatinya.

*

Sampai di rumah, Myungsoo langsung mengirim pesan kepada NN. Sebenarnya tadi ia berniat mengejar Soojung untuk mengucapkan terimkasih. Tapi gadis itu sudah menghilang entah kemana.

“Kau yang melatakkan laba-laba itu di lokerku?” Tanya Myungsoo tanpa basa-basi.

Satu menit kemudian, NN menjawab. “Laba-laba?”

“Jangan pura-pura tidak tahu. Kau sengaja menerorku, ya?”

“Apa yang kau bicarakan?”

Karena tidak sabar, Myungsoo langsung menelpon NN. Tapi hanya terdengar nada sambung yang lama, dan beberapa kali tidak diangkat.

“Kenapa kau tidak mengangkat teleponku?!” Tulis Myungsoo di pesannya.

“Kubilang kita akan segera bertemu.” Jawab NN.

“Sudah jelas kau menerorku! Tidak mau menyebutkan identitas dan mengangkat telepon. Setelah mendapat surat cinta itu darimu, aku juga mendapat kesialan.”

“Kim Myungsoo, bukankah sudah kubilang kau harus memikirkan perasaan gadis-gadis itu.”

“Jangan mengalihkan pembicaraan!”

“Sampai bertemu di sekolah.”

Myungsoo melempar ponselnya. Ia kesal setengah mati dengan si NN itu.

*

Seharian ini di sekolah, Myungsoo hanya diam. Beberapa anak sibuk membicarakn dia dan Soojung tentang tragedi Tarantula kemarin. Soojung yang sudah biasa dibicarakan anak-anak hanya bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Sedangkan Myungsoo tampat geram. Woohyun pun gagal menghiburnya.

Terlebih ketika tadi pagi Myungsoo mendapati selembar Sticky Note di lokernya dengan tulisan, ‘I’m NN. Would you wait for me?’, Myungsoo tambah geram dibuatnya.

Saat jam pulang sekolah, Myungsoo sengaja diam di kelas lebih lama.

“Kau… mau menuggunya?” Tanya Woohyun hati-hati.

“Hm.” Jawab Myungsoo singkat.

Mengerti mood sahabatnya tu sedang buruk, Woohyun berkata, “Kalau begitu, aku duluan.” tanpa dibalas oleh Myungsoo.

Ketika Woohyun melewati kursi belakang sebelum keluar kelas, ia baru sadar. Hanya Myungsoo dan Soojung yang tertinggal di kelas. Perasaannya ganjil. Ia memikirkan beberapa kemungkinan, namum semua hal itu disingkirkannya jauh-jauh.

“Sedang menunggu seseorang?”

Myungsoo tersentak. Ternyata bukan hanya dia yang berada di kelas itu. Perlahan, ia menoleh ke belakang.

“Jung Soojung?”

Gadis itu beranjak, lalu berjalan mendekati jajaran loker. “Kulihat, seseorang meninggalkan pesan di sini.”

Myungsoo ikut beranjak. Perlahan, ia berjalan mendekat pada Soojung. “Ah, iya itu… ngomong-ngomong, terimakasih untuk yang kemarin.”

“Tidak usah repot-repot, sebenarnya aku tidak benar-benar berniat untuk menolongmu.” Bibir Soojung tersenyum simpul. “Sebagai gantinya, apa kau sudah memikirkannya?”

“Maksudmu…?” Tanya Myungsoo tidak mengerti dengan apa yang Soojung bicarakan.

“Tentang perasaan gadis-gadis itu,” Tangan Soojung mendekati loker Myungsoo, lalu mencabut Sticky Note yang menempel di sana. “Tentang perasaannya.” Ujarnya sambil menunjukkan kertas kecil itu pada Myungsoo.

“Aku… tidak tahu apa yang kau bicarakan….”

Soojung terkekeh. “Terimakasih sudah munungguku. Aku benar-benar terharu. Ternyata kau bisa berkorban untuk wanita.”

“Jung Soojung, apa kau….”

“YA. Benar. Aku NN. Aku si Gadis Tanpa Nama. Aku yang menulis surat untukmu. Aku yang menaruh mawar yang hancur itu di lokermu. Dan aku yang meletakkan Tarantula itu lokermu.” Jelas Soojung. Jelas. Sangat jelas.

Myungsoo terkekeh. “Tidak mungkin.” Ia seperti mendengar lelucon yang tidak masuk akal. “Omong kosong, kau tidak mungkin berani melakukan hal gila itu.”

Tawa Soojung semakin keras. Dengan langkah berat, ia mendatangi Myungsoo. “Tidak mungkin?”

Myungsoo mundur. Tapi Soojung terus mendekatinya.

“Aku benar-benar sudah baik kepadamu. Karena kau populer, aku menyuruhmu untuk memikirkan perasaan mereka yang menyukaimu. Tapi kau malah berciuman dengan tujuh gadis yang berbeda dalam waktu tiga hari. Apa kau manusia?”

“Soojung, bukan begitu maksudku….”

Punggung Myungsoo menyentuh tembok. Ia sudah tidak bisa lari ke mana pun. Sementara Soojung telah berdiri dengan jarak sekitar lima senti meter di hadapan Myungsoo.

“Jung Soojung, sebentar—“

Tangan Soojung memegangi leher Myungsoo. Entah apa yang dipikirkannya. Ia mencekik leher Myungsoo kuat-kuat.

Sementara napas Myungsoo yang sudah tak terdengar, tangannya yang berusaha melawan Soojung terlihat sia-sia. Gadis itu lebih kuat dari yang dibayangkannya.

“MATI KAU.” Ujar Soojung bersamaan dengan tawa jahatnya.

Wajah Myungsoo memerah. Terlihat sekali bahwa darahnya tidak bisa berjalan dengan normal. Tiga menit kemudian, lelaki itu tidak bergerak. Perlahan, cekikan Soojung mengendur. Tangannya bergetar hebat setelah menyaksikan lelaki di depannya itu tergeletak lemas di lantai.

Air matanya perlahan menetes.

Seharusnya, Soojung merasa bersalah. Untuk ukuran wanita yang telah mencintai pria selamat tiga tahun lebih, mustahil untuk melakukan hal gila itu. Tapi Jung Soojung justru tertawa lebar. Setelah memastikan Myungsoo benar-benar mati, tawanya semakin keras. Sampai lima menit, ia baru tenang.

“Dengar baik-baik, Kim Myungsoo. Aku melakukan ini karena aku tahu kau tidak akan pernah bisa merasa bersalah. Karenanya, menyesallah dengan arwahmu. Sepanjangkau hidup di neraka.”

Kemudian Soojung tertawa lagi. Udara malam yang begitu menusuk tulang masuk melalui jendela yang sengaja dibiarkan terbuka. Soojung melangkah gontai keluar kelas dengan seringai di bibirnya.

END.

Thanks for reading, komentarnya sangat diharapkan ya 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s