[FICLET] He’s Back

FICLET 1 - He's Back

Back?

Sehari setelah kelulusan 3 tahun lalu, aku masih mengingat dengan jelas jari kelingkingmu bertautan dengan jari kelingkingku. Ini janjiku.’, adalah dua kata yang kau katakan setelah kau berbisik di telinga kananku. Saat itu senyumku mengembang sempurna.

Aku benci mengatakan ini. Tapi kau telah menodai 99% kepercayaan yang kau yakinkan untukku. Memang, hanya 1% yang tersisa, tapi itu mampu merusak semuanya.

“Nona, ada telepon untukmu.”

Aku beranjak dari tempat dudukku. Mengabaikan semua lamunan tentang masa lalu. Menarik kembali segala kata-kata pengumpat yang tadi kuucapkan. Kembali fokus ke pekerjaanku.

“Halo?”

Keningku berkerut. Butuh 10 detik untukku mengenali suara di sebrang telepon. Ah, aku ingat. Park Chanyeol, laki-laki yang pertama kali kutemui di ruang musik dengan gitar klasiknya.

“Chanyeol?” Tanyaku dengan suara pelan. Sangat pelan.

Ternyata kau mengingatku. Bagaimana kabarmu?” Sapa Chanyeol di sebrang.

“Baik. Ehm, ada perlu apa kau menelpon? Aku sedang bekerja.”

Tidak, aku hanya ingin mengajakmu bertemu.”

Sore ini di sebuah taman hiburan, aku duduk sendirian. Menunggu seorang lelaki yang kini kudengar telah bekerja di sebuah agensi entertaimen sebagai seorang trainee.

Aku menengok jam tanganku, 15 menit berlalu dan dia belum datang. Kupikir dia tidak tahu kalau aku tidak suka menunggu, jadi aku tetap diam di tempat sambil memikirkan banyak hal.

Tepat di depanku, ada dua anak sedang bermain ayunan, 2 remaja sedang duduk di bawah pohon sambil mendengarkan musik, dan 2 murid yang masih mengenakan seragam sekolah sedang bercengkrama.

“Ini janjiku.” Laki-laki dengan seragam sekolah itu tersenyum lebar.

Gadis –yang kutebak adalah kekasihnya—di depannya itu juga tersenyum. “Tidak, jangan. Jangan katakan ini.”

Mataku membulat. Gadis berseragam itu hanya diam sejak tadi. Tapi aku mendengar suaranya. Ya, suaranya. Tak ada gadis lain lagi di sini. Entah sejak kapan semua anak telah pergi. Hanya dua sejoli itu yang tersisa. Aku memandangi mereka, lambat laun mereka semakin mendekat ke arahku. Dan sekarang mereka duduk tepat di sebelahku.

Tanganku bergetar. Tubuhku gemetar hebat. Lidahku terasa kelu.

“Kubilang jangan lakukan ini. Apa kau tidak mengerti? Aku tidak mau menunggu, bahkan hanya untuk satu hari.”

Tenggorokaku terasa sangat kering. Suara gadis itu terus terngiang di telingaku. Bagaimana bisa? Sumpah, aku melihatnya hanya diam sejak tadi. Hanya kekasihnya yang terus mengeluarkan bualan-bualan gombalnya.

Mereka seperti… menganggapku tidak ada.

“Maaf membuatmu menunggu lama.”

Saat pandanganku mengarah ke bawah, kulihat sepasang sepatu hitam mengkilap di depanku. Aku mengikuti garis lurus dari sepatu itu, dan kutemukan tubuh yang kini berdiri tegak. Aku kembali bingung dibuatnya.

Membuatku menunggu? Aku tidak menunggu pria di depanku ini. Tidak menunggu.

“Kau….”

“Aku akan menjelaskan.” Pria bertubuh tinggi ini duduk di sampingku. Dan yang membuatku lebih terkejut lagi, dua remaja berseragam sekolah tadi tiba-tiba menghilang entah kemana. Aku melihat sekitar dan mereka benar-benar tidak ada.

Sungguh aku tidak tau apa yang terjadi, dan bagaimana ini bisa terjadi. Kini aku hanya berusaha mengatur napas juga detak jantungku. Dan membuat tubuhku tidak bergetar terlalu hebat.

“Hari itu aku ditemui seorang staf dari sebuah agensi, yah yang kini menjadi agensiku. Mereka melihat video yang aku unggah di YouTube, dan berkata aku bisa menjadi seseorang yang terkenal. Kau ingat ambisiku?”

Aku berpikir sambil merasa bahwa ini hanyalah sebuah bualan belaka. Seperti yang kuingat, kau memang hanya bisa membual.

“Dan kini aku telah berhasil. Setelah 100 hari menunggu, minggu depan adalah debutku.”

Mataku membulat sempurna. Debut? Telingaku pasti salah dengar.

“Kau pasti tertawa mendengarnya. Atau berpikir bahwa kau salah dengar. Tapi aku serius,” Pria dengan celana jeans gelap ini memandangiku. “Aku menghilang tanpa memberi kabar padamu karena aku tidak diizinkan membawa ponsel, dan memiliki aku media sosial.”

Ya, aku pernah mendengar tentang ini.

Tunggu, aku ingat. Aku ingat kau suka sekali menari. Kau pernah memenangkan kontes menari, dan kau mendapat juara 1. Kau punya bakat.

“Aku tidak sedang membual,” pria ini tersenyum, “Beruntungnya, aku satu grup dengan Chanyeol.”

Chanyeol? Oh, dia adalah orang yang aku tunggu. Bukan kau.

“Apa kau sudah melihat teaser debutku? Itu sudah keluar bulan lalu. Wajahku masih sama, aku tidak memakai banyak make up. Hanya namaku yang diganti dengan nama panggung.”

Teaser debut? Hah, terlalu malas untuk melihat itu semua. Aku bukan penggemar K-Pop seperti kebanyakan orang. Lagi pula di sana tidak ada orang yang kukenal.

“Aku minta maaf untuk itu.”

“Untuk apa?” Tanyaku pertama kalinya sejak tadi.

“Meninggalkanmu terlalu lama. Dan untuk semuanya.”

Aku tersenyum kecut. Sama sekali tidak berniat untuk memberi tanggapan apapun.

Pria itu menghembuskan napas panjang, “Kurasa kau adalah gadis beruntung. Karena—“

“Karena? Aku memilikimu? Karena aku pernah berkencan denganmu? Kau akan memilihku sebagai gadismu? Haha, sayangnya tidak, Kim Jong In. 99% kepercayaan yang kau berikan padaku, telah hilang karena satu persen kesalahan yang kau buat. Sengaja atau tidak sengaja, aku tidak peduli. Sejak saat itu aku menjadi benci menunggu. Aku menunggumu selama 3 tahun. Aku bahkan tidak bisa makan dan tidur dengan tenang.” Aku menarik napas panjang, “Dan sekarang kau datang dengan cara seperti ini. Disaat aku telah menjalani hidupku dengan normal lagi.”

Kim Jongin—pria yang duduk di depanku—menampakkan raut wajah tidak senang. Atau sedih, atau kecewa, entah apa yang dirasakannya. Aku hanya dapat melihat bola matanya. Caranya menatapku sama sekali tidak berubah.

“Terimakasih, karena telah mengatakan yang sebenarnya. Sehingga aku tidak bertanya-tanya lagi mengapa. Semoga debutmu sukses.”

Aku beranjak, lalu melangkahkan kaki menjauh dari bangku taman yang selama kurang lebih 1 jam aku duduki. Meninggalkan satu insan yang masih bernapas kaku di sana.

Kau dimana? Aku merindukanmu.”

“Beritahu aku bahwa kau baik-baik saja….”

“Mengapa ponselmu tidak aktif?”

“Aku lelah menunggu.”

“Terserah kau saja. Aku tidak peduli.”

Aku terus berjalan. Mengabaikan Chanyeol yang melambai dengan senyum lebar ke arahku. Satu-persatu bayangan gadis berseragam tadi terus mengikutiku. Kali ini dengan pakaian yang berbeda di setiap bayangannya. Aku tidak peduli dengan suaranya.

Tidak. Tidak peduli.

-done.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s