[FICLET] Monodrama

I’m sorry, Kate.

Lembaran baruku dimulai hari ini. Sungguh bahagia rasanya melihatmu mengenakan gaun putih dengan ekor yang menjuntai panjang sambil membawa sebuket bunga di tanganmu. Kau begitu menawan. Tak ada lagi yang bisa kuungkapkan padamu. Satu kalimat berikut sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya; aku mencintaimu.

Aku mengingat janji yang kau ucapkan tadi. Meski kenyataannya kita tak bisa bersanding secara sempurna, bahagianya diriku yang bisa memilikimu seutuhnya sudah cukup. Apalah arti sebuah pernikahan sempurna, kalau kau sudah terlalu sempurna untukku.

“Kate, lepas gaunmu.” Ujar Ibu—yang sebenarnya mertuaku, tapi tentu saja aku boleh memanggilnya Ibu.

“Tidak, Ibu, tak bisakah Ibu melihat aku begitu bahagia? Jonas mengatakan aku sangat cantik dengan ini.” Jawab Kate.

Ibu tersenyum. “Kau cantik dengan apa pun, sayang.”

Sambil memamerkan deretan giginya, mata kiri Kate mengedip pada Ibu, kemudian berlalu ke kamar. Senyumnya kembali mengembang melihatku yang duduk di ranjang besar kami. Terimakasih kepada adik iparku yang menghiasinya dengan taburan kelopak mawar.

“Jonas, kau tahu, aku sangat bahagia.” Ucap Kate sambil mengelus pelan pipiku. “Suaramu… berat, tapi menenangkan hatiku,” Telapaknya beralih pada rambut cokelatku yang terasa lembut. “Jonas, aku bahagia bersamamu.”

Mata Kate memancarkan sinar yang sama denganku; kebahagiaan. Aku bisa melihat rasa haru yang begitu dalam di sana. Lensa biru itu seakan membawaku untuk hidup di dalamnya, memberikan rasa nyaman.

“Kau mau apel? Aku baru saja memotongnya tadi,” Tanya istriku sambil meringis. Tanpa menunggu jawabanku, ia mengambil potongan apel di meja. “Buka mulutmu, ini enak dan menyehatkan.” Kemudian ia menyuapiku satu potongan. “Lihat, kau menyukainya.” Melihat apel yang sudah tenggelam dalam mulutku, Kate juga mengunyah satu potong.

Tanganku yang menggenggam erat jemari Kate. Hangat. Satu hal yang kusukai darinya, dalam kondisi apa pun, Kate selalu bisa menghangatkanku. Bahkan di musim panas sekali pun.

“Astaga, kau belum mandi? Kau harus mandi, Jo.” Ujar Kate yang disambut senyum lemah dariku. “Mau kumandikan? Ah, kau jadi manja semenjak kita menikah—tidak, bahkan sebelum kita menikah.” Mendengarnya, aku terkekeh pelan. “Ibu! Tolong siapkan air hangat!” Teriak Kate sembari melepas Tuxedoku.

Ibu langsung membuka pintu kamar kemudian bertanya, “Untuk apa?”

“Memandikan Jo.”

Ibu berjalan ke arahnya dengan langkah berat. Ia menatap Kate lekat lembut dirasa. “Kate,”

Menaikkan alis, Kate menoleh pada Ibu. “Hmm?”

Kulihat tangan Ibu membelai sayang pucuk kepala putrinya. “Sudahlah….” Racau Ibu dengan suara parau.

“Ada apa? Ibu tidak bisa menciumnya? Jo sangat kelelahan, sehingga dia berkeringat dan bau. Aku harus memandikannya. Bukankah itu tugas seorang istri? Benar kan, Jo? Lihat, dia tersenyum padaku. Itu tandanya benar, Ibu. Jadi tolong siapkan—“

Kalimat Kate terpotong begitu saja karena Ibu mendekapnya tiba-tiba. Kalau dirasa dari bahunya yang naik turun, sepertinya Ibu menangis.

Aku tidak mengerti suasananya. Ini membingungkan. Lalu Kate menepuk-nepuk punggung Ibu dengan jantung yang terdengar berdetak luar biasa kencang. “Ya, Ibu, sudah, baiklah. Aku tidak akan memandikan Jo. Kami akan tidur… ya, kami akan tidur bersama. Sudah, sudah.”

Ibu melepaskan pelukannya, kemudian tersenyum khawatir padaku. Akhirnya ia beranjak dan meninggalkan kamarku setelah mematikan lampu.

Jarum pendek sudah menunjuk angka sepuluh. Aku bangun lebih dulu tanpa mengusik Kate yang masih terlelap dalam pelukanku. Wajahnya begitu damai terkena cahaya matahari pagi. Aku bahagia, karena ia menjadi milik dan hakku seutuhnya.

Disaat kami menikmati atmosfer ini, samar-samar kudengar suara orang di luar. Pembicaraan mereka tak cukup jelas sampai di telingaku, tapi aku yakin lebih dari seratus persen, mereka akan segera masuk ke kamar kami.

Dan, benar saja.

Yang tak bisa kumaafkan adalah, mereka menimbulkan keributan dan membangunkan Kate dari tidurnya. Untung saja Kate tidak melepas gaunnya. Di depan, terlihat keluarga besar kami berkumpul sambil menatap nanar kami.

“Selamat pagi, Kate.” Ucap Dann, kakak laki-lakiku.

Kate menarik selimut, rautnya berubah tegang. “Kalian… mau apa??”

Mereka perlahan mendekat pada kami. Rasaku pun tak jauh beda dengan Kate, ketakutan. Ingin sekali aku menggendong Kate ke tempat yang jauh—tapi kutahu itu sangat mustahil.

“Ka-kalian, mau apa?!” Tanya Kate, suaranya gemetar.

“Kami ingin mengambil Jonas.” Jawab Dann dengan nada datar.

“M-mengambil Jonas? Untuk apa?! Kalian tidak tahu ini haru pertama kami?! Bagaimana bisa—“

“Kau bilang satu minggu, Kate, kami sudah memberimu toleransi sampai tanggal pernikahan kalian.” Jelas Ayahku.

Kate memelukku erat. “Tidak. TIDAK! Takkan kuizinkan seorang pun menyentuh Jonas!”

Kemudian yang terjadi adalah, Ibu Kate dan Ibuku mengambil sisi Kate dan menjauhkannya dariku. Selanjutnya, Dann dan Ayahku mulai mengangkat tubuhku dan menempatkanku dalam sebuah kotak persegi panjang.

“Jonas! Tidak, Jonas!!!” Kudengar teriakan Kate semakin histeris.

Suasana di ruangan ini menjadi biru. Sampai aku ingin menangis. Mereka mulai mengganti Tuxedoku dengan yang baru. Memakaikanku sepatu hitam mengkilap, sarung tangan putih, kemudian menutup tubuhku dengan kain jaring putih transparan, dan kayu cokelat yang menghalangi pandanganku.

“JONAS!!!”

Di sana, Kate menangis meraung-raung melihat tempat tidurku memasuki krematorium. Di sini, aku tersenyum padanya. Begitu besarnya Kate mencintaiku. Dia, istriku, menangis untukku. Haruku tak bisa terungkap lagi, Kate sungguh luar biasa.

Jago merah muli beraksi. Panasnya memakanku perlahan, menghabiskan peti cokelat itu lebih dulu. Namun untuk yang terakhir, aku ingin melihat wajah Kate sekali lagi.

“Jo….” Racau Kate. Sedih rasanya melihat manik bulat Kate membengkak. Pipi dan hidungya merah. Napasnya tersengal-sengal. Air matanya mengalir deras, membanjiri leher lewat pipi tirusnya.

“Jo… kau akan pergi….”

Aku mengangguk. “Ya, sesuai janji kita. Aku boleh pergi setelah kau memilikiku, Kate, dan telah aku bertahan untukmu.”

“Jo… aku bohong tentang janji itu. Kumohon, bertahanlah lebih lama….”

Senyumku mengembang. “Tidak, Kate, waktuku sudah tiba.”

Semakin panas kurasa. Ini cukup, damai sudah kubawa. Wajah Kate kemarin dan hari ini, juga waktu-waktu sebelumnya tidak akan kulupa. Sampai api melahap habis tubuhku, hingga menyisakan butiran abu yang akan dikembalikan pada alam, hal terakhir yang ingin kuucapkan adalah,

Tidak ada yang lebih baik darimu, Kate.”

-done.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s