[FICLET] Racer

Racing?

Mobil brengsek!

Aku memaki-maki sebuah sedan hitam yang berhenti secara tiba-tiba di depanku. Padahal jalanan tidak macet, cuaca sedang bersahabat, tidak ada kecelakaan atau keributan. Supirnya pasti mabuk, pikirku. Aku menekan gas, lalu mendahului mobil itu dengan kasar.

Setelah bisa menyesuaikan kemudi dengan baik, kaca spionku menangkap sedan itu mengikutiku. Atau dia memang akan melewati jalur yang sama denganku?

Aku menambah kecepatan, kulihat sedan itu juga melakukan hal yang sama. Jarak kami tidak terlalu jauh. Ini gila. Kurasa aku akan dikejar polisi karena aksi kebut-kebutan.

Selang waktu 10 menit, sedan keparat itu lagi-lagi berhenti mendadak di depanku. Kepalaku sampai terbentur kemudi. Aku baru saja akan membuka mulut untuk memaki-makinya lagi, tapi aku teringat 8 menit lagi pesawatnya lepas landas. Sedangkan waktu yang kubutuhkan menuju bandara adalah sekitar 15 menit.

Rambutku yang panjang terurai mulai berantakan. Ponselku berdering berkali-kali menandakan ada panggilan masuk. Bajuku sudah kusut tak menentu.

Aku tidak peduli. Kulanjutkan perjalanan setanku menuju bandara. Yah, aku menyebutnya perjalanan setan karena aku mengendarai mobil dengan kecepatan fantastis. Untung tidak ada polisi yang sedang berpatroli.

Sial! Sedan gila itu mengikutiku lagi. Supirnya pasti sedang depresi. Apa yang dia inginkan? Seingatku, aku tidak punya hutang apapun kepada siapapun. Atau melakukan kesalahan yang fatal.

Dia kembali berhenti di depanku. Kali ini aku mencoba bersabar. Aku hanya diam menahan emosi yang semakin memuncak. Menunggu manusia keparat yang duduk di belakang kursi kemudi sedan itu keluar. Tapi ia tak kunjung keluar juga.

Aku tidak tahan, akhirnya kulangkahkan kaki dengan berat menuju pintu sebelah kiri sedan itu. Berusahan mendobrak pintunya dengan paksa walau kutau itu adalah hal yang tidak mungkin.

Samar-samar, kulihat seseorang masih bernyawa. Syukurlah, dia bukan hantu, alien, atau sejenisnya, pikirku. Dia mengenakan jaket tebal berwarna hitam. Sudah kuduga, dia memang gila. Mana ada yang mau memakai jaket tebal berwarna hitam di musim panas?

“Paman, bukan pintunya. Mari selesaikan ini. Aku tidak punya banyak waktu!” ujarku setengah membentak.

Makhluk di dalam sedan itu tidak juga memalingkan wajahnya dari kemudi. Lalu ia melirik jam tangannya.

“HEY, BODOH, KELUARLAH!!!” kali ini aku sudah tidak bisa bersabar lagi. Aku menggedor kaca mobilnya keras. Bahkan jika sampai pecah, aku justru bahagia.

Aku mundur selangkah, manusia depresi itu terlihat akan membuka pintu mobilnya. Pembawaannya sangaaat tenang. Cih, dia pikir dia tidak punya dosa? Berlagak sok suci seperti itu membuatku jijik.

Ternyata dia tinggi juga. Aku harus mendongak untuk melihat wajahnya, sampai mataku memyitip karena terpantul cahaya matahari.

“Baiklah, Paman, katakan apa masalahmu denganku? Dengar, waktuku terbuang sia-sia hanya untuk menunggumu keluar dari mobilmu. Sedangkan 5 menit lagi aku harus tiba di bandara. Dan kau membuat—”

“Sepertinya kau berbakat menjadi pembalap.” Pria jakung di depanku ini membuka penutup kepalanya. Melepas kaca mata, dan menurunkan resleting jaketnya.

Kupikir sekarang akulah yang tidak waras. Benar, dia memang hantu. Alien. Dia sudah mati.

“Kris?”

Hening. Dia tidak merespon panggilanku. Cukup lama. Aku menyitipkan mata, lalu dengan sangat hati-hati aku menempelkan punggung tanganku pada kening pria ini.

“Kau masih hidup?”

Pria jakung ini tertawa renyah, “Apa maksudmu? Aku berdiri di sini, berbicara denganmu, mana mungkin aku sudah mati.”

“Tapi kau seharusnya berada di bandara.”

Ia menyunggingkan smirk andalannya, “Kau percaya? Bahkan aku tidak pernah menunjukan tiket pesawat. Ternyata kau sangat mudah dibodohi.”

Hening.

“Hey, coba lihat. Mobilmu tergores kayu. Secepat itukah kau mengejar waktu ke bandara, agar bisa bertemu denganku? Wah, aku sangat tersanjung.”

Saat ini aku benar-benar seperti kepiting rebus. Pria ini, kalau ada sendok nasi, aku sudah memukulnya berkali-kali seperti yang biasa kulakukan terhadapnya. Aku jengkel sekali.

“Lain kali, ayo kita balapan bersama.”

-done.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s