[FICLET] That’s Late

Why am I so fool?

“Sudah rapi, mau kemana pagi-pagi begini?” Tanya Amber.

“Mengunjungi teman,” Jawab Henry, kakaknya.

Amber menatap Henry sebentar, lalu membalikkan halaman majalah di tangannya. “Teman yang mana?”

Sambil membenarkan dasi, Henry tersenyum. “Teman lama.”

“Pasti sepesial sampai kau memakai jas seperti ini.”

“Tau apa kau tentang sepesial, kau masih kecil.” Amber mendecakkan lidah. “Mungkin aku akan pulang telat. Jangan keluar, jaga rumah saja.” Henry mengacak rambut Amber, lalu berjalan keluar.

“Bawakan aku makanan kalau pulang!” Teriak Amber, yang dibalas Henry dengan jari telunjuk dan jempol yang menyatu membentuk huruf O, meninggalkan 3 jari di belakangnya yang berdiri.

Sudah lama Henry menunggu hari ini. Tiga hari yang lalu ia baru saja menyelesaikan tugasnya menjalani wajib militer sebagai pria Korea sejati. Segar sekali rasanya bisa menghirup udara bebas, batinnya. Selain itu, ada hal yang menyedihkan baginya. Rambut pria itu belum juga tumbuh. Menurutnya, itu membuat penampilannya buruk.

Mobil Henry terparkir di depan sebuah rumah dengan cat hijau. Masih sama seperti dua tahun lalu, meskipun sederhana, rumah ini terlihat begitu damai dengan berbagai bunga yang cantik di pekarangannya.

Henry memencet bel. Beberapa saat kemudian, seorang pria bertubuh tinggi dengan celana pendek membuka pintu.

“Hai, siapa ini?” Tanya Pria itu. Melihat reaksi Henry yang bingung, ia melanjutkan, “Mencari siapa? Ada yang bisa kubantu?”

“Apa benar ini rumah Shin Ah Ri?” Tanya Henry.

“Ya benar, ada apa?” tanya pria itu lagi. “Yeobo, ada yang mencarimu!” teriaknya.

Henry mengeriyitkan keningnya. Yeobo?

Beberapa detik kemudian, terdengar suara seorang wanita bersama tangisan bayi dari dalam. “Siapa? Suruh saja masu—“

Mata Henry membulat. Ia yakin matanya tidak minus, apalagi katarak. Matanya sehat-sehat saja. Wanita itu… Shin Ah Ri?

Ah Ri mengenakan pakaian yang—bisa dibilang—terlalu santai. Memang ini hari libur. Tapi dia ada di rumah dengan seorang pria dewasa, dan… seorang bayi?

“Hen…ry?” Panggil Ah Ri lirih. Kalau saja yang ada di tangannya itu bukanlah seorang bayi yang notabene adalah anaknya sendiri, mungkin ia sudah menjatuhkannya.

“Ah Ri, ini….” Tangan Henry sedikit bergetar.

“Ah, Henry? Teman lama Ah Ri, istriku sering bercerita tentangmu. Kalau begitu masuk saja, udara di luar dingin, kami punya penghangat ruangan di dalam.” Pria jakung tadi membuka pintu lebih lebar dan memeprsilahkan Henry masuk.

Teman? Istriku?

Henry menatap wanita di depannya itu dengan lekat. “Tidak, terimakasih. Kurasa aku punya janji yang lebih penting.” Setelah membungkuk, tanpa mengucapkan sepatah kata lagi Henry meninggalkan rumah itu.

“Ada apa dengannya?” Tanya suami Ah Ri. Tapi lawan bicaranya itu malah diam tak berkutik menatap mobil putih yang meluncur lurus, semakin kecil hingga hilang di tikungan.

“Jadi dia benar-benar ingat dan kembali? Benar-benar kembali? Padaku? Kenapa aku tidak mendengarkannya, menganggapnya gurauan dan meninggalkannya.” Batin Ah Ri.

“Lalu kenapa aku menikah?”

-done. Leave a comment, please? 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s