[FICLET] Aku, Dompet, dan Makhluk Tuhan yang Tidak Biasa

1415367221

Sirine tanda keberangkatan kereta berbunyi nyaring. Suara seorang wanita yang terdengar di speaker mengatakan bahwa kereta akan berangkat lima menit lagi, jadi penumpang harus bersiap segera.

Sialnya ketika itu, dompetku terjatuh di antara lautan manusia yang berlomba masuk ke gerbong kereta. Setelah berkali-kali didahului oleh para wanita dan lansia ketika mengantre tiket, kemudian terdorong ke sana ke mari oleh para ibu yang tidak sabaran. Alasannya simpel, ladies first. Bah, basi sekali.

Mataku menyusuri setiap jengkal jalan yang dijamah tapak-tapak manusia penuh dosa—penuh dosa karena menurutku mereka kurang ajar sekali. Coba lihat di sini, seorang pemuda dengan koper besar sedang mencari dompetnya yang hilang!

Cih, apa pedui mereka.

Kalau dilihat lagi, mereka lebih mirip bebek-bebek yang digiring ke kandang, tapi masih berlarian karena sang peternak tak pandai melakukan tugasnya.

“Aduh!” seruku. Seorang ibu-ibu tidak sengaja menekan kepalaku. Kepalaku dijadikan pegangan agar ia bisa berjalan tegak.

Mungkin benar bahwa yang muda harus menghormati yang tua. Tapi tetap saja, yang tua harus menghargai yang muda. Itulah prinsipku. Apakah aku ini terlalu polos atau bagaimana, ya, hidupku selalu saja sial.

“Hoi, nak, sedang apa kau di bawah sana?!” Seorang petugas stasiun berteriak padaku—karena memang akulah satu-satunya yang berada di bawah. “Kereta akan segera berangkat, sedang apa kau? Ini kopermu?”

“Ya, dompetku terjatuh.” jawabku memelas.

“Yasuda cari saja.” Kemudian pria bertubuh gendut itu melengos begitu saja meninggalkanku yang menatapnya dengan mata lesu dan mulut terbuka seolah mengatakan ‘hah, yang benar saja’.

Mungkin memang benar, aku ini selalu sial.

Tapi presepsi itu aku tinggalkan sejenak setelah aku tegak dan mataku menangkap sesosok makhluk Tuhan yang tidak biasa. Sungguh, aku tidak berbohong. Ini tidak biasa.

Dia tinggi semampai. Berambut black-brown yang menjuntai indah di pinggang rampingnya. Tangannya yang putih mulus sambil membawa buku itu terlihat kontras sekali dengan cat stasiun yang rata-rata dark blue. Dia menghadap ke rel, jadi bisa kusaksikan siluetnya dari samping. Ugh, makhluk apa itu?

Ternyata dia adalah seorang wanita.

Tunggu, wanita? Anggun sekali. Selama aku hidup, tidak ada wanita yang seperti itu. Semua wanita sama saja selalu kurang hajar—kepadaku. Mereka selalu seenaknya sendiri. Hah, andai tidak ada yang namanya zaman emansipasi wanita. Pasti aku akan menjadi raja. Haha. Hahaha. Hahahahaha.

Dalam mimpiku.

Tunggu—ouh, dia menoleh dan… tebak? Dia tersenyum padaku! Oh my God, dia tersenyum padaku! Dia satu-satunya wanita yang tersenyum padaku—selain ibuku, tentu saja. Dan nenekku. Dan bibiku. Ah, pokoknya semua saudara perempuanku. Tapi sama saja, sih, mereka termasuk dalam kategori wanita-kurang-hajar.

Sejenak kurasakan udara stasiun ini begitu enak sekali dirasakan. Seolah bau khas kereta api kelas ekonomi itu berubah menjadi wangi pesawat VVIP. Padahal aku belum pernah lihat pesawat secara langsung. Tahu, kan? Lihat saja belum apalagi naik.

Tunggu tunggu tunggu—ouh, dia berjalan padaku! Makhluk Tuhan yang tidak biasa itu tersenyum sampai matanya tersenyum juga. Mengingatkanku kepada gadis-gadis manis karakter anime. Aw, kawaii!

“Hei, nak, sudah ketemu belum dompetnya?”

“Hooooi, bocah!”

Aku tergagap. “E-eh, iya pak? Kenapa?”

Petugas stasiun gendut tadi menghampiriku sambil melihat penampilanku dari bawah sampai atas. “Dompetnya sudah ketemu belum?”

“Eh? Oh, dompet. Lah, ini dompet saya, pak. Kenapa tanya dompet saya?” Aku menunjukkan dompet cokelat usang yang kukeluarkan dari saku celanaku.

Bapak gendut itu tidak respon. Dia hanya mengubah mulutnya menjadi bentuk ‘a’, dengan kening berkerut.

Kemudian kami saling bertatapan. Ada sedikit hal aneh yang aku rasakan… kenapa jantungku berdebar-debar….

“Oh, sudah ketemu ya. Ngomong-ngomong, kamu mau pergi ke mana?” Sudah, atmosfer aneh diantara kami sudah sirna. Kemudian aku sadar bahwa kami adalah sesama kaum adam, jadi tidak boleh ada debaran jantung di antara kami.

“Ke Bandung, Pak. Hehehe.”

“Bandung, ya? Ngomong-ngomong, keretamu sudah duluan.”

“Ah, biasa itu. Tadi saya pas ngantre tiket juga diduluin sama ibu-ibu, nenek-nenek juga. Pas mau masuk gerbong juga diduluin emak-emak. Sudah biasa, Pak.” Jelasku sambil tertawa malu-malu.

Bapak gendut itu tersenyum—sedikit nista kalau dilihat lebih detail. Kemudian dia tertawa. Akupun membeo. Kemudian kami tertawa terbahak-bahak bersama-sama. Entah karena apa.

Lalu tawaku terhenti ketika makhluk Tuhan yang tidak biasa itu berjalan dengan anggunnya seperti putri solo. Dia tersenyum cantiiiik sekali. Akupun balas tersenyum padanya sambil melambai.

Tak kusangka, dia berlari. Berlari kecil. Ugh, buat aku gemas sekali. Namun ketika aku akan menyambutnya dengan sebuah dekapan, makhluk Tuhan yang tidak biasa itu malah melintasiku seperti Valentino Rossi dengan motornya. Keadaan menjadi tidak stabil. Seperti dia membawa debu peri, lalu menempel padaku menjadi butiran debu.

“Udah lama nunggunya?”

“Enggak kok, baru sejam yang lalu.”

“Hehehe, maaf ya, aku kelamaan.”

“Harusnya keretanya yang minta maaf.”

“Yaudah aku mewakili masinisnya, minta maaf.”

“Ah kamu, dasar.”

Sebentaaaar saja. Aku melihat pemandangan yang biasa. Ketika makhluk Tuhan yang tidak biasa itu melintasiku. Kemudian berlari menghambur ke pelukan seorang pria dengan kemeja kotak-kotak merah. Mungkin dia adalah penggemarnya Pak Jokowi.

Kemudian mereka saling bersenda gurau sambil berjalan menjauh. Oke fix, dia buka makhluk Tuhan yang tidak biasa. Ternyata dia termasuk dalam golongan wanita-kurang-hajar.

“Oi, kamu kenapa?” Si Bapak Gendut berbicara.

“Dia member dari wanita-kurang-ajar.”

“Hah? Wah, ngelantur, ya, kamu. Sudah lebih baik kamu pulang. Besok pesan tiket ke Bandung lagi.”

“Ya, Pak.” Aku menurut saja seperti anak SD yang dimarahi bapaknya. “Heh? Besok??!”

Si bapak gendut yang tadinya sudah berbalik, kini berbalik lagi. Menatapku lelah. “Tadi, kan, sudah saya bilang keretamu sudah duluan. Kamu saja yang nggak konsen, malah sibuk liatin pacar orang.”

“Loh, Pak, kan lima menit lagi?!!”

“Lihat sekarang jam berapa.”

Aku melihat jam tanganku. Sial, sudah tiga puluh lima menit lebih dari jam berangkat kereta. Apa saja yang kulakukan tadi?!

“Pulang saja kamu, nak. Kasihan sekali.” Ucap si Bapak Gendut.

Ketika aku sibuk merutuki diri dan berteriak, “WAAAAAAAAAAA!!”, tiba-tiba saja datang kereta dengan suara nyaringnya. Membuat jantungku terlonjak, aku kaget. Kaget bercampur malu karena banyak orang yang memandangku aneh.

Yah, mungkin saja aku memang selalu sial. Mungkin aku tidak lebih dari mahasiswa yang selalu gagal skripsi. Mahasiswa kos yang mengenaskan. Pemuda yang berharap keajaiban Tuhan itu nyata, dengan mendatangkan sesuatu yang tidak biasa.

-fin.

Thank you for reading, mind to leave a comment? ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s