[FICLET] I’m on Back

Back view of young couple walking along treelined dirt road --- Image by © Chris Crisman/Corbis

Back view of young couple walking along treelined dirt road — Image by © Chris Crisman/Corbis

Jikalau musiklah yang mampu sampaikan, sudah pasti aku sentuh biola. Begitu pedulinya kau dengan tuts demi tuts piano, sentuhan lembut bagai ballerina, melengking lembut di telinga.

Ya, kau adalah ballerina. Jari-jarimu adalah ballerina. Malunya diriku, bersanding denganmu kenakan Keds. Juga rambut pendekku, tak mungkin aroma shampoo-ku mampu getarkan indramu.

“Ai!”

Lagi, lagi. Lagi-lagi suara berat itu getar mengudara menuju gendang telingaku. Lagi-lagi bibir tipis itu senandungkan namaku. Bukan hal baru memang, namun getarannya selalu berhasil memaksa jantungku bekerja lebih cepat.

Selangkah urung kuajukan, kubalikkan punggung menyapamu. “Kazu,” parauku.

“Heeeei, ada apa dengan wajah itu? Suram sekali.” Awalnya ia menyejajarkan langkahnya denganku, tapi sekarang kakinya setapak lebih banyak dariku. Yah, begitulah Kazuto dengan kaki panjangnya.

“Aku gagal lagi.” Jawabku singkat.

“Memecahkan jendela lagi?” Aku mengangguk. Sambil meletakkan tangannya di belakang kepala, Kazu tertawa lalu menghela napas panjang. “Yah, mau bagaimana lagi. Kau seorang pemain Baseball. Harus pandai memukul bola, itu semua butuh latihan.” Ucapnya sembari menirukan gaya pemukul bola professional.

Aku tertawa. Lucu sekali, Kazu, kau payah dalam olahraga. Yang kau tahu hanyalah musik dan musik. Jari-jarimu terlalu lentik untuk memegang bola. Tubuhmu yang kurus itu terlalu lemah untuk berkelahi.

“Bagaimana latihanmu? Kudengar kompetisi piano tingkat SMA tahun ini akan dimulai Desember.”

“Itu dua bulan lagi. Ya, aku berlatih dengan keras. Chopin tidak mudah untuk dimainkan.”

Sekilas, segaris senyumku terpatri. “Melelahkan, ya? Tapi aku yakin tidak sebanding lelahnya dengan lari mengelilingi lapangan sepak bola.”

“Kau lari?”

“Hmm, kalau salah satu dari kami membuat kesalahan, hukuman dari pelatih adalah lari mengelilingi lapangan sepak bola sebanyak tiga kali.” Jelasku.

“Membayangkannya saja membuatku mulas.”

Kemudian kamu tertawa bersama.

“Kau makan dengan teratur? Tidur cukup?” tanyaku, ada sedikit nada khawatir kalau saja Kazu adalah tipe lelaki yang peka. Tapi sepertinya tidak. Aku mengenalnya sejak dulu, rumah kami bersebelahan.

“Hmm, tapi hari ini aku mau makan sushi. Bosan hanya makan ramen di rumah. Kau ikut ya, Ai?” Kazu mengatakannya sambl menoleh padaku dengan cengiran khasnya.

Sebentar. Sebentar saja, aku melonjak. Sebentar saja, wajah suramku pergi sebelum—

“Kazuuuuuuuu!”

Sebentar saja.

“Himeji!”

Guguran sakura mengubar bersama angin. Membawa jari-jari ballerina bersama raganya melangkah lebar, sedikit berlari dengan manik berkilauan. Telingaku tertutup rayuan daun-daun yang bergesekan. Hanya dengung terdengar.

Sungguh hanya dengung selain, “Ai, makan sushi-nya besok saja, ya. Hari ini aku mau latihan dengan Himeji.” Adalah lontaran kalimat dari mulut Kazu.

Tidak adil.

Lambaian tangan Kazu yang menjauh. Jemari mereka yang bertautan. Saling berbagi cerita dan tertawa. Seorang pianis dan seorang violinst. Oh, sungguh mereka adalah pasangan yang serasi.

Tapi, tidak adil.

Aku mengenal Kazu jauh lebih lama darinya. Aku tahu kebiasaan-kebiasaan buruknya. Aku tahu masalah dalam keluarganya. Aku tahu semua tentang Kazu. Aku lebih dulu menyukainya.

“Sampai bertemu besok, Aiko!” Sial, gadis itu malah melambai padaku dengan senyum lebar bahagia.

Tidak adil. Sebenarnya sudah menjadi kesepakatan antara aku dan Kazuto. Hanya aku yang akan memanggilnya Kazu. Dan hanya Kazu yang boleh memanggilku Ai. Ai, berarti cinta. Tapi yah, mungkin sudah tidak berguna lagi. Mungkin Kazu lupa. Mungkin ‘Kazu’ bukan panggilan istimewa. Dan ‘Ai’ juga.

Apa boleh buat. Entah karena kaki Kazu lebih panjang dariku atau yang lain, aku selalu selangkah lebih jauh di belakangnya. Aku hanya bisa melihat punggungnya menjauh, yang kian hari kian hilang dalam bayangan lensaku.

-fin.

Thank you for reading, mind to leave a comment? ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s