[FICLET] The 1095 Days

img_2547Dengan sayu Lynn berjalan, menapak demi menapak hamparan rumput hijau nan dingin dalam tapak. Jejak-jejak melati ia tinggalkan dalam setiap goresan batang pohon yang mendayu sembari gugurkan daunnya.

Dalam suasana hikmat Lynn menatih. Hembusan angin datang dan pergi silih berganti hampiri dada Lynn—menghempaskanya butuh dua kali tenaga hirupan. Tak jua pun kumpulan gagak, makhluk hitam itu senantiasa setia menari-menari hinggap pada satu ranting, kemudian berhijrah ke pohon selanjutnya. Seolah menunggu mangsa, gagak-gagak itu berjejer pada kabel yang melintang juga di atas patung.

Indahnya pagi ini.

Kaki telanjang Lynn menginjak sebuah tanah berlubang bekas jejek kaki. Ya, itu adalah jejak kakinya. Menandakan gadis berambut merah marum itu terlampau sering datang ke tempat itu.

“Apa kabar, Lucas?”

Kemudian ia duduk dan meletakkan lingkar cicin krisan dengan permata mawar merah, bersama setangkai Lily.

Dikatupkannya kedua tangan sang gadis sambil memejamkan mata. Dalam hati ia panjatkan do’a. Masih kata-kata yang sama, masih harapan yang sama, pada orang yang sama. Seperti putaran video masa lalu, Lynn tersenyum lalu membuka keranjang yang tadi dijinjingnya.

“Kemarin aku baru saja belajar memasak.”

Gadis itu mengeluarkan mangkuk berisi beberapa kudapan. Dari segi bentuk, jelas sekali itu produk gagal.

“Aku membuat macaroni, madeleine, stroberi daifuku, dan bavarois.”

Sungguh tak pantas jika kau datang pada kenduri dengan baju hitam. Pun jika kau berada di Gurun Sahara. Panas kan menyeruak teteskan letih. Takkan sampai kau datangkan rintik hujan pada cuaca ekstrem, dinginnya bisa capai minus. Sama dengan kudapan manis yang Lynn bawa, bukannya segelas air untuk memberi makan rumput jepang.

“Tiga tahun yang lalu, kau bilang ingin mencoba kopi robusta? Haha, aku bukan barista jadi aku tidak bisa membuatnya dengan baik. Ling-ling bilang, ini kopi dari Brazil. Aku tidak tahu apakah Brazil itu negara dengan kopi yang baik, tapi kurasa begitulah.”

Setelah mencicipi satu sendok, “Ini gila, minuman ini pahit. Ah, Ling-Ling bilang ini bisa ditambah gula atau susu. Ling-ling baru saja pulang dari Gungzhou dan membeli susu.”

“Tidak enak, ya? Tak apa, lagi pula kau tidak bisa merasakannya.” Lynn berucap sambil menuangkan kopinya pada lily dan mawar, juga krisan. “Mau coba stroberi daifuku? Kue mochi ini dari Jepang, manis sekali.”

Kening Lynn mengerut. terrkecamuk di pikirannya tentang bagaimana cara menanam rumpuk yang baik, kemudian memupuknya tanpa diserang hama. Begitu telah bulat keputusan, Lynn menggali tanah. Terus menggali hingga jarinya terketuk sebuah peti. Disingkirkannya buket bunga hingga rontok sudah kelopaknya.

“Sudah cukup. Sekali-kali, kau harus berusaha untuk meraih sesuatu.”

Kudapan-kudapan itu diletakannya di atas peti cokelat usang. Lalu ia menutup lagi lubang karyanya. Bentuk aroma dan tekstur tanahnya tak lagi sama. Rumput jepang yang tadinya berbaris rapi seperti satuan tentara negara, kini berculatan entah ke mana. Bercampur dengan kopi robusta dan susu, lembek jadi dibuatnya.

“Menyedihkan, Lucas, kau menyedihkan. Orang mati selalu terlihat menyedihkan.”

Tapi kau lebih menyedihkan—tidak terlihat menyedihkan karena kau memang menyedihkan. Karena selalu berharap orang mati akan hidup kembali. Kiranya begitu Lucas akan berucap jika ia masih bernapas.

“Besok aku akan kembali, dengan kudapan yang berbeda. Dengan minuman yang berbeda.”

Dalam pikiran, Lynn telah berencana membawa bir. Dalam jumlah liter banyak. Siapapun yang waras pasti akan menganggap gadis itu gila. Sudah tiga tahun belakang ia menyiramkan berbagai jenis minuman ke dalam kuburan Lucas. Dan hari ini ia membongkarnya, lalu meletakkan makanan di sana. Beruntung, di dekatnya banyak pepohonan, mungkin tumbuhan-tumbuhan itu menyerapnya karena toh, peti Lucas hanya sekedar usang.

Pernahkah kau berpikir, apa jadinya mayat Lucas?

Tidak, jangan berpikir. Itu menjijikkan.

“Sampai jumpa besok, Lucas.”

Lynn beranjak, meninggalkan jejak kakinya yang tertimbun sisa tanah kuburan Lucas. Dengan seringai senyum sudut, dengan langkah terseret-seret. Dengan iringan nada kepakan gagak, dengan suara gesekan dedaunan.

Rutinitasnya selama tiga tahun ini seperti kutukan saja. Selama pisau itu masih tertancap pada nisan Lucas, selama darah di sana belum hilang. Selama goresan luka pada tangannya itu hilang. Selama otaknya mampu menghapus memori tentang peristiwa pembunuhan pada hari itu.

“Aku akan kembali lagi, selalu kembali lagi.”

Menurutmu, antara cinta dan rasa dendam penuh luka bercampur amarah benci, mana yang Lynn pendam untuk Lucas?

-fin.

Thanks for reading, mind to leave a comment? ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s