[SONGFICT] Stuck

coffe_time_by_tec2

[cr cover as tagged]

Terinspirasi dari lagu Darren Espanto – Stuck

Tidak, Wendy tidak mungkin ada di sini. Untuk apa gadis itu ke kedai kopi? Dia bahkan tidak pernah mengadakan acara minum teh bersama keluargaya. Minum kopi terlalu mustahil untuk gadis yang benci kafein.

Tapi itu benar dia, Wendy Carl.

Sendirian sambil menikmati secangkir kopi susu—kalau kurasa dari aromanya yang mengudara. Oh benar, Wendy terobsesi dengan susu. Kopi susu mungkin bukan tidak mungkin untuk dia menikmatinya setidaknya secangkir saja dalam seminggu.

Sial, aku terlalu asik memandanginya dalam hening hingga dia menyadari tatapan kosongku—sebenarnya pikiranku tidak benar-benar kosong. Yeah, I’m just overthinking.

“Thomas?”

“Oh, hai, Carl.” Sapaku canggung. Entah sejak kapan dia beranjak dan menghampiriku.

Sambil menunjukkan mug-nya, “Boleh aku bergabung?” dia bertanya.

Setelah menelan saliva sebagai bentuk rasa gugup, “Yah, silahkan saja.”

“Terimakasih.”

Sejenak, aktivitas kami hanya diam sambil menikmati minuman masing-masing. Sebentar-sebentar aku curi pandang pada Wendy. Matanya, hidungnya, bibirnya, rona pipinya, garis wajahnya. Kutebak tak satupun dari mereka berubah sejak terakhir kusentuh.

“Jadi… apa kegiatanmu belakangan ini?” tanya Wendy tiba-tiba membuyarkan lamunanku.

“Tidak banyak. Kau tahu aku terlampau sering berdiam di dalam ruang kerjaku.”

“Melukis?”

“Yeah.”

Wendy menyesap lagi kopi susunya.

“Kukira kau tidak suka kopi.”

Sambil memicing, dia menanggapi, “Ya, aku benci kafein. Tapi kurasa kau penggemar kopi, jadi, yah—“

“Aku?”

“—yah, aku berusaha menyukai kopi. Meski kupadukan dengan susu, atau moka, atau yang lainnya.”

“Wait. Kenapa aku?”

Hening sejenak, kalau bisa kubaca pikiran Wendy mungkin saja dia malu untuk mengatakannya. Karena dia adalah wanita, atau karena dia memang malu untuk berungkap. Tapi Wendy Carl bukan tipe gadis yang senang menyembunyikan sesuatu kalau bukan sesuatu yang memang pantas untuk disembunyikan. Wendy Carl adalah orang yang senang berterus terang. Dia seperti bos yang blak-blakan mengatakan bahwa laopran bawahannya sangat jelek dan akan langsung menyobeknya di hadapan sang bawahan.

“Karena kau adalah kau. Kau hanya menjadi kau saat aku menjadikan kau sebagai alasan.”

Get it. Wendy Carl selalu pandai bermain kata. Pantas saja, dia adalah seorang komposer.

“Dengan kata lain?”

“Kau benar-benar payah, Thomas.” Ujar Wendy sambil menurunkan kaki silangnya. “Menurutmu bagaimana jika seorang gadis mulai menyukai apa yang disukai seorang pria? Maksudku—pria, bukan sembarang pria, kau tahu?”

Menyuukainya? Pikiranku liar berkelana. Jauh di awing-awang, aku sungguh tidak berharap itu jawabannya.

“Tidak, kurasa.”

“Dasar payah. Aku menyukaimu, Thomas.”

Aku terlalu idiot untuk menyadari, bahwa ada sesuatu yang salah dengan gadis ini. Semua kupu-kupu yang kurasakan ketika kami berciuman, semua hal yang telah kami selesaikan. Semuanya tidak pernah benar-benar penting.

“Aku menyukaimu, Thomas Brown.”

“Aku… tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

“Perlu kuulangi lagi?”

“Tapi kita sudah berakhir, Carl.”

“Berhenti memanggil nama belakangku. Namaku Wendy.”

“Lupakan saja.”

“Apa?”

Apa? Apa yang seharusnya kulakukan? Harus bagaimana kita selanjutnya? Kita sudah berakhir, Wendy. Semua yang telah kita lihat adalah apa yang ingin kau lakukan. Tapi kurasa aku masih terjebak pada garis start, dan baru kusadari aku terlalu lama menggenggam sesuatu yang tidak penting.

“Kupikir, momen dua puluh lima Desember itu tidak benar.” Ujarku dengan suara parau.

“Kenapa? Bukakah kau begitu menyukaiku sampai kau melukis wajahku pada dinding kamarmu?”

Oh, ayolah, Wendy Carl, kau adalah kafein bagiku. Kau membuatku candu. Momen dua puluh lima Desember adalah hari dimana kami resmi mengikat suatu hubungan. Hubungan yang entah harus disesalkan atau tidak. Sejak sebelum momen itu pun gadis itu masih bersemanyam di dalam memoriku sampai sekarang. Mungkin karena pekerjaannya sebagai komposer yang menulis banyak lagu dengan perasaan yang beda untuk setiap karyanya, aku tidak pernah merasa berada dalam kehidupan seorang Wendy Carl.

“Thomas?”

“Kau tahu, film animasi Tinkerbell?”

Wendy mengerutkan keningnya. “Ya, kenapa?”

“Dalam ceritanya, Tinkerbell menyukai Peterpan, tapi Peterpan menyukai Wendy dan mereka saling mencintai. Kau tahu bagaimana perasaan Tinkerbell?”

Mungkin dia menganggap aku sedang berangan-angan atau gila, tapi akhirnya dia menjawab, “Yang aku tahu, tentu saja Tinkerbell patah hati. Tapi dia masih menyukai Peterpan.” Jeda sejenak. “Kenapa kau membahas itu?”

Aku tersenyum tipis setelah menyesap kopi terakhirku. “Kurasa, kau harus menjadi Tinkerbell—walaupun kau tidak pantas menjadi peri kecil cantik dengan hati yang cantik pula itu.”

“Maksudmu?”

“Anggap saja aku adalah Peterpan, dan kau adalah Tinkerbell.”

Sepertinya dia mulai menyadari maksudku. Ya, komposer biasanya bisa menyadari maksud dibalik kata-kata. Karena itu mereka bekerja. “Tunggu… bukankah kau… menyukaiku? Kau menyukaiku, kan?! Kau tegila-gila kepadaku!”

“Miss Carl, mantapkan dulu bagaimana kau mencintai seseorang. Perasaanmu selalu berubah-ubah, dan itu membuatku tidak nyaman.” ucapku dengan senyum santai.

“Thomas, aku kemari untuk kembali padamu.” Wajah memelas Wendy terlihat, basi sekali, dulu dia sering menunjukkannya padaku saat merajuk. Dan sialnya, aku seperti terkena sihir yang dasyat karena selalu jatuh dalam ranjaunya.

“Benar kau adalah Wendy, tapi sayang, sepertinya Peterpan ini harus mencari Wendy yang lain.”

Kemudian aku beranjak, tersenyum nista kepada Wendy Carl. Sekarang kau bebas—tidak, dari dulu kau memang selalu bebas. Bebas untuk mencintai siapapun sesukamu. Ya, Nona Carl, semuanya terserah kau sekarang. Dan aku benar-benar tidak akan pernah ikut campur sepucuk kuku jari pun dalam setiap napasmu.

“Tapi, tunggu, Thomas—“

Senyumku semakin nista saja melihat Wendy yang kebingungan seperti anak kecil yang terpisah dari rombongan piknik sekolahnya.

“Selamat tinggal, Tinkerbell.”

-fin.

Thank you for reading, mind to leave a comment? ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s