[BOOK REVIEW] Cafe Waiting Love by Giddens Ko

https://hyeeunkim.files.wordpress.com/2016/03/0585d-cafe2bwaiting2blove.jpg?w=297&h=448

Judul: Cafe Waiting Love
Penulis: Giddens Ko
Penerjemah: Julianti
Penerbit: Haru
Genre: Drama, romance
Kategori: Novel dewasa muda
Ukuran: 14×20 cm
Tebal: 404 halaman
Terbit: Januari 2016
ISBN: 978-602-7742-70-3

SINOPSIS

Dalam hidup ini, ada berapa kali saat di mana jantung berdegup dengan kencang,
dan kata-kata tidak sanggup terucap?
Aku belum pernah berpacaran,
tapi aku tahu bahwa seseorang yang percaya pada cinta,
seharusnya menghargai momen setiap kali jantungnya berdebar,
kemudian dengan berani mengejar kali berikutnya,
kali berikutnya,
dan kali berikutnya lagi.
Di dalam sebuah cafe kecil,
setiap orang sedang menunggu seseorang.

REVIEW

Kalau di kehidupan nyata aku tidak bisa bersama dengan Zeyu, setidaknya dalam cerita fiksi yang berdasarkan kisah nyata itu, aku dapat meraih mimpiku sendiri.” (Halaman 222).

Aku tertawa setelah membaca quote di atas. Karena dengan sedihnya aku mengakui, bahwa aku pernah membayangkan bahkan menulis hal serupa. Kalau diingat-ingat lagi, rasanya memalukan.

 

Halo! Ketemu lagi dengan saya yang kali ini membawa sebuah review dari sebuah novel dengan judul Cafe Waiting Love karya Giddens Ko, yang diterbitkan oleh Penerbit Haru.

Selamat membaca! ^^

Sebelumnya, aku pernah nonton film You Are the Apple of My Eye, yang ditulis Giddens Ko juga. Dan setelah nonton filmnya Cafe Waiting Love, kurasa aku jadi sedikit tahu gaya Giddens Ko. Di bagian belakang novel tertulis bahwa Cafe Waiting Love ini merupakan karya dengan tema percintaan yang pertama kali ditulis oleh Giddens Ko, sebelumnya dia menulis novel fantasi. Entah juga sih, aku belum baca novel fantasinya. Hehehe.

Dari You Are the Apple of My Eye, Cafe Waiting Love juga merupakan sebuah kisah cinta yang manis. Penulis sendiri mengatakan bahwa konflik percintaan dengan alur pria dan wanita yang bertemu secara tidak sengaja, lalu menjalani banyak rintangan bersama, berhijrah dari sedih menjadi senang, adalah kisah biasa yang sudah sangat pasaran.

Karenanya aku suka dengan awal mula berjalannya kisah Li Siying dengan A Tuo di novel ini. Mulanya, Siying mengenal A Tuo melalui cerita kakaknya. Aku merasa bahwa A Tuo bukanlah tokoh utama dalam novel ini, melainkan hanya tokoh yang lewat melalui Li Fengming, kakak Siying.

https://i0.wp.com/cdnstatic.visualizeus.com/thumbs/bf/94/asian,beautiful,girl,movie,movieposter,pretty-bf94e6007ff26a6f7293be190cc78827_h.jpg
(Li Siying dalam film Cafe Waiting Love)

Sedangkan awalnya aku mengira Siying akan menjalin kisah bersama Zeyu, pelanggan setia Cafe Waiting Love yang gemar sekali kopi Kenya, pemuda yang disukainya. Zeyu benar-benar dilukiskan  sebagai pemuda yang bersinar. Meski sering menunjukkan senyum pahit, bisa kubayangkan Zeyu ini memang sangat tampan.

Namun semakin berjalan cerita, peran Zeyu tidak terlalu banyak. Zeyu hanya datang bagaikan penghibur saja. Sedangkan waktu Siying bersama A Tuo semakin bertambah dan bertambah seiring kata yang merangkainya.

Awalnya aku benar-benar berharap Siying akan bersama Zeyu. Kegiatan saling bertukar memo dan makan semangkuk mi instan berdua itu sungguh meninggikan harapkanku. Tapi sepertinya tidak juga. Zeyu digambarkan sebagai pemuda yang suka gonta-ganti pacar. Aku jadi patah hati dibuatnya.

Ini penampakan(?) Zeyu di versi filmnya. Benar-bernah terlihat charming (menurutku).

https://yflkelvin.files.wordpress.com/2014/08/e7ad89e4b880e5808be4babae59296e595a15.jpg?w=440

Selain tiga tokoh di atas, ada Albus, seorang lesbian yang bekerja sebagai barista di Cafe Waiting Love. Aku benar-benar bisa membayangkan Albus yang sedang meracik kopi dengan kerennya. Ini adalah penampakan Albus di versi filmnya. Sayang banget dia cewek, padahal kelihatan ganteng ._.

https://i0.wp.com/www.fareastfilm.com/easyne2/Archivi/FEFJ/ALL/0005/5749A.jpg

A Tuo merupakan sosok yang mudah bergaul. Dia seakan juga ikut membawa cerita ini, mengenalkan kepada pembaca beberapa tokoh unik lainnya. Beginilah penampakan A Tuo dalam versi film.

https://i2.wp.com/asiapoisk.com/uploads/cache/data/products/1427416121_Bruse-465x600.jpg

Abang Bao, gangster yang hobi nonton film, bahkan punya theater sendiri di rumahnya. Walaupun dia gangster yang suka membacok orang, namun di sini perannya malah jadi lucu. Lalu ada Xiao Cai, seorang pemuda yang telah delapan kali gagal mengikuti ujian masuk universitas. Dia terobsesi untuk mempelajari ilmu seni tubuh manusia yang menurutku konyol sekali.

Ada juga Paman dan Bibi Pisau Emas, pasutri yang membuka sebuah penatu. Bibi Pisau Emas adalah koki yang sangat handal, namun hanya masak seminggu sekali. Kebayang nggak di atas penatu ada sebuah restoran kecil dengan makanan super mewah yang tersembunyi?

Kemudian A Zhu, seorang gadis gendut yang sering diajari berenang oleh A Tuo, namun hanya bisa gaya ubur-ubur (yang aku sendiri nggak bisa bayangin gimana gaya itu). Lalu Changzi, pemuda dengan timbunan lemak yang jago sekali bermain jepit boneka dan basket.

Peran pembatu lainnya: Xiao Qingteman Siying semasa SMA, Baijia, Siting, Niancheng—teman seasrama Siying di universitas. Juga ada Nyonya Bos, pemilik Cafe Waiting Love. Nyonya Bos juga punya kisah cinta yang menarik, menyangkut sejarah Cafe Waiting Love.

Dari segi penokohan, menurutku penulis sudah berhasil membawa pembaca ke dunia buatannya. Siying benar-benar terlihat seperti remaja yang baru saja masuk universitas. A Tuo yang terlihat polos sekali, dan Zeyu dengan sejuta pesonanya. Begitu juga dengan tokoh yang lain.

“Walaupun sebagian besar memo kami berisi hal-hal tidak penting, tapi berdasarkan peraturan dalam novel percintaan, semakin tidak ada siasat maka semakin mengalir obrolannya. Semakin tinggi rasa cinta, ibarat tumpukan daun-daun yang berguguran, dalam sekejap saja dapat saling berguguran.” (Halaman 204)

Aku rasa penulis tidak terlalu suka konflik yang berbelit-belit—atau dia memang mengatakan bahwa menulis novel percintaan itu sulit. Dari You Are the Apple of My Eye dan Cafe Waiting Love, keduanya memiliki konflik yang sederhana namun berhasil disuguhkan istimewa. Alur yang tersaji juga menarik. Semuanya terasa begitu alami, hingga kadang aku melupakan peristiwa kecil yang sebenarnya berpengaruh besar pada ceritanya.

Terutama pada bagian ending, lagi-lagi aku menyangkutkannya dengan You Are the Apple of My Eye, keduanya sama-sama mengejutkan. Membuatku berpikir ‘Ah, kupikir endingnya tidak akan begini’.

Bahasa terjemahannya juga mudah dipahami, seperti kebanyakan novel Haru.

Oh ya tadi aku bilang kalau aku sudah mengerti sedikit gaya Giddens Ko. Kembali pada You Are the Apple of My Eye, di sana dikisahkan bahwa Ke Jingteng menulis sebuah novel tentang kisah hidupnya, yang merupakan novel itu sendiri. Siying juga melakukan hal yang sama, yaitu menulis sebuah novel dengan judul Cafe Waiting Love. Selain hal itu,  penulis juga menyukai bagian awal kisah yang tidak pasaran, juga memasukan tokoh yang tidak sedikit. Kurasa aku jadi ingin membeli novel Giddens Ko yang lain.

Ngomong-ngomong tentang film, cerita yang disuguhkan lebih menarik versi novelnya. Ceritanya benar-bernar berbeda, meski dasarnya sama. Daripada spoiler, mending kalian nonton sendiri aja :p untuk yang belum nonton dan baca novelnya, ya.

Kenangan itu sangat indah. Kenapa harus menangis?” – Nyonya Bos (Halaman 88)

Demi apa pun, novel ini berhasil bikin aku baper. Overall, I really really like this novel! Ratingku 5 dari 5 bintang. Sungguh-sungguh recomended!

XOXO,

Aizakuri

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s