[BOOK REVIEW] Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 by Pidi Baiq

https://hyeeunkim.files.wordpress.com/2016/04/4e285-cover2bdilan2b1990.jpg?w=452&h=655

Judul: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990
Penulis: Pidi Baiq
Bahasa: Bahasa Indonesia
Penerbit: Pastel Books
Tahun Terbit: 2014
Tebal: 348 Halaman
ISBN: 978-602-7870-86-4

“Cinta itu indah. Jika bagimu tidak, mungkin karena salah milih pasangan.”

Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990. Judul yang panjang dan agak membingungkan karena ada embel-embel 1990-nya itu yang membuatku tertarik pertama kali. Juga naman Dilan, yang unik dan yang awalnya kukira adalah nama cewek.

Setelah terpengaruh beberapa teman dan review, akhirnya kubeli juga novel Dilan ini. Dari banyak review, ada yang positif ada juga yang negatif, kuputuskan untuk lebih percaya dengan review positif karena ada salah satu reviewer cowok (aku lupa siapa) yang bilang: kalo aku cewek, aku juga bakal suka sama Dilan. Tapi sayangnya aku cowok. Hahaha. Entah kenapa aku bacanya ngakak, juga jadi semakin percaya kalo Dilan ini memang harus dibaca. Cowok aja bisa ‘jatuh cinta’, gimana aku yang cewek? Hahaha.

Dan benar seperti apa yang dikatakan orang-orang, Dilan memang mudah untuk dicintai.

Diceritakan bahwa Dilan adalah seorang siswa SMA kelas 2 yang jatuh cinta dengan Milea, teman satu sekolahnya. Yang membuatnya istimewa adalah bagaimana cara Dilan memperlakukan Milea. Menurutku, Dilan seakan menganggap Milea seperti ‘tuan putri’, meski menurut Milea tidak begitu. Dilan benar-benar mengistimewakan Milea. Kali ini menurut Milea dan aku sebagai pembaca.

Dilan sering melakukan hal aneh, diantaranya adalah menelepon rumah Milea disaat Milea tidak ada, dia malah ngajak Bibi (pembantu di rumah Milea) ngobrol. Juga tindakan lain seperti mengirim undangan untuk sekolah pada Milea (undangan sekolah, jadi Milea diundang untuk sekolah. Ya memang biasanya dia sekolah, kan?). Semuanya aneh tapi benar-benar unik. Menurutku, Dilan berbeda dari yang lain. Baik di dunia real, maupun di novel lain yang pernah kubaca.

Serius, Dilan itu unik!

Sedangkan Milea menurutku adalah seorang gadis yang rempong. Aku nggak tahu gimana jalan pikiran remaja kelas 2 SMA di tahun 1990 sebagaimana latar dalam cerita ini, tapi rasanya pemikiran Milea beda denganku yang sekarang menjabat sebagai remaja kelas 2 SMA di tahun 2016.

Atau karena pikiran orang memang beda-beda.

Tapi di sini aku merasa Milea itu… gimana ya, malah nggak kayak siswa kelas 2 SMA. Dia malah kayak anak SMP. Atau anak-anak SMA jaman segitu memang begitu.

Baiklah, Milea memang gadis yang baik. Juga polos. Cantik pula, ceritanya. Tapi aku nggak suka sifat Milea yang kadang berlebihan. Seperti ketika diceritakan ketika dia ingkar janji dengan Dilan, dalam narasinya ditulis bahwa Milea merasa benar-benar kacau, seakan dunia runtuh, dan lebih baik dia tidak hidup di bumi, atau sebaiknya langit runtuh bersama mengubur rasa bersalahnya pada Dilan.

Padahal masalahnya sepele, dan Dilan tidak ambil pusing. Menurutku, itu lebay.

Memang, jaman sekarang juga ada beberapa anak SMA yang seperti itu. Bahkan yang sudah kuliah pun ada (sok tahu). Tapi menurutku tetap sifat Milea lebih seperti anak SMP. Selain karakter baik dan polosnya itu, aku kurang suka Milea.

Novel ini menggunakan sudut pandang Milea sebagai aku, sang pemilik cerita. Hal itu membuatku seperti ‘memaafkan’ sifat Milea yang tidak kusukai karena aku seperti berterimakasih karena Milea sudah mau berbagi ceritanya bersama Dilan denganku. Di sini, Milea benar-benar seperti bercerita kepada pembaca. Ia dengan jujur menuliskan semua perasaannya, mengungkapkan emosinya, dan mencurahkan segala hal yang dilewatinya hingga jadilan sebuah cerita yang menarik. Bahkan aku sempat berpikir ini bisa dikatakan sebagai buku harian!

Oh ya, Milea itu biasanya dipanggil Lia. Lia adalah nama panggilanku. Aku belum pernah baca novel dengan tokoh utama Lia, jadi yang ini rasanya seperti aku yang bercerita dan seperti aku yang berpacaran dengan Dilan XD

Kemudian kekurangan dari novel ini adalah yang pertama, penulis yang kurang mampu membangun karakter. Milea memang baik dan polos, namun hanya sekedar seperti itu saja. Dilan juga mengesankan, lucu, dan romantis, namun belum jelas juga sebenarnya dia itu seperti apa. Kisah Dilan yang sebenarnya belum benar terungkap. Juga tokoh-tokoh lain, karakternya belum melekat.

Yang kedua, penulis belum mampu membangun konflik yang kuat. Menurutku, semua konflik di dalamnya hanyalah konflik-konflik kecil yang belum mengarah ke konflik sebenarnya.

Apa tujuan novel ini? Bagaimanakah garis besar konfliknya? Apa yang sebenarnya ingin disampaikan penulis? Menurutku, ketiga pertanyaan itu belum ada jawabannya. Konflik kecil memang penting, namun konflik besar adalah inti cerita yang tidak bisa dilupakan. Konflik kecil seharusnya mengantar pembaca menuju konflik besar dan memberitahu apa yang sebenarnya ingin disampaikan penulis. Namun dalam Dilan, aku belum menemukan hal tersebut.

Malah menurutku Dilan ini hanya menceritakan kisah romanasa remaja SMA biasa. Kisah cinta yang biasa, tanpa ada yang unik selain karakter Dilan yang menarik. Kalau ada yang mengatakan Dilan hanya picisan cerita cinta anak SMA, kurasa itu benar. Juga ada yang mengatakan bahwa Dilan lebih mirip seperti tugas mengarang anak SMP atau SMA. Lagi-lagi, aku agak setuju dengan itu. Maaf untuk fans-fans Dilan, karena kejujuranku yang mungkin menyakitkan v_v

Yang ketiga, gaya bahasa. Sebenarnya aku tidak mau menyebut ini sebagai kekurangan novel, tapi aku merasa perlu membahasnya.

Setiap penulis memang punya gayanya masing-masing. Dilan adalah novel Pidi Baiq pertama yang kubaca, jadi aku tidak tahu kalau memang gaya beliau seperti itu. Tapi jujur saja, aku tidak suka dengan gaya bahasa yang tidak baku.

Ya, Dilan menggunakan bahasa santai. Sangat santai. Terlalu santai. Juga ada beberapa bagian yang menggunakan bahasa Sunda. Aku yang bukan orang Sunda tentu tidak tahu artinya, meski sudah diberi terjemahan, sehingga aku kurang bisa merasakan feel-nya (?).

Bagaimana tidak, jika ada beberapa narasi atau dialog yang ditulis sesuia logat Sunda, mana bisa aku mengerti? Selain itu, aku juga memang tidak suka dengan fiksi yang tidak baku. Bukan aku mau sok baku, sih. Hanya saja menurutku itu aneh. Seandainya Dilan ini ditulis dengan bahasa baku namun tetap komunikatif seperti novel terjemahan, misalnya, kurasa hasilnya akan lebih bagus.

Salah satu yang paling annoying menurutku adalah ketika dialog tertawa, dituliskan ‘ha ha ha’ atau ‘he he he’ atau ‘hi hi hi’. Demi apapun, itu menggangguku. Rasanya seperti mendengar orang tertawa tapi tidak lepas. Ditulis dengan spasi, tentu saja aku membacanya dengan jeda -_-.

Selain tiga kekurangan di atas, tentunya Dilan masih punya kelebihan yang pantas diacung jempol. Setelah sampai 2/4 novel, aku jadi tidak ingin meninggalkannya. Penulis menyisipkan humor yang menghibur. Aku ingin cepat menyelesaikannya dan tahu bagaimana ending-nya. Lebih jelasnya, mending baca sendiri saja karena aku sungguh tidak bisa menjelaskan seberapa menariknya novel ini :v

Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 masih berlanjut ke Dilan #2: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991. Kuharap kisah manis Dilan – Melia akan terus berlanjut dengan ending yang tidak mengecewakan.

Segitu dulu review-ku kali ini. Untuk para pecinta Dilan, mohon maaf karena sepertinya review-ku ini lebih banyak membicarakan kekurangan novel daripada kelebihannya. Karena aku ingin me-review buku sejujur-jujurnya. Dan inilah pendapatku setelah membaca Dilan. Jangan jadi tidak suka padaku, aku suka Dilan kok! :p

“Angin, untuk meniup rambutmu. Aku, untuk mencintaimu.” – Dilan, halaman 343.

Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990, adalah novel yang cocok sekali untuk pecinta fiksi lokal ringan. Selain bahasanya yang mudah dipahami, konfliknya pun tidak rumit. Bagi penggemar fiksi berat, novel ini aku rekomendasikan sebagai selingan jika kamu lelah dan agar kamu tidak ‘bosan’ dengan yang berat-berat, hehehe.

Review ini juga dapat dibaca di blog saya, hyeeunkim.wordpress.com.

Terimakasih sudah membaca ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s