[BOOK REVIEW] The Stolen Years by Ba Yue Chang An

https://hyeeunkim.files.wordpress.com/2016/06/40f9f-12310498_924294690958297_5100895595856367846_n.jpg?w=465&h=655

Judul: The Stolen Years
Penulis: Ba Yue Chang An
Penerbit: Haru
Tanggal Terbit : Januari 2016
Penerjemah: Jeanni Hidayat
Penyunting: M. Noviana
Proofreader: Dini Novita Sari
Cover Designer: Chyntia Yanetha
Ilustrasi Isi : Frendy
Cetakan Pertama: Januari 2016
ISBN : 978-602-7742-66-6
Tebal : 348 halaman
My Rating : 4 / 5 stars

SINOPSIS

Benarkah waktu dapat mengikis perasaan cinta?

Hal terakhir yang diingat He Man adalah ia sedang berbulan madu dengan suaminya, Xie Yu. Namun, tiba – tiba gadis itu terbangun di rumah sakit dan sudah bercerai. He Man mengalami amnesia dan lupa akan lima tahun terakhirnya.

Ia tidak mengerti mengapa ia bisa bercerai dari Xie Yu padahal mereka saling mencintai. Ia tidak mengerti mengapa sahabatnya sekarang malah membencinya.

Ketika He Man berusaha mengumpulkan kembali kenangan dan ingatannya, ia mulai menemukan hal – hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

REVIEW

Wan shang hao, ni hao?

/Halah, sok Mandarin/

Aku baru saja selesai membaca novel terjemahan Mandarin, makanya kusapa dengan bahasa Mandarin, hahaha. Sebenarnya sih aku hanya tahu seputar xie-xie dan wo ai ni saja untuk bahasa Mandarin :v

Baiklah, selamat membaca!

The Stolen Years terbit Januari 2016. Waktu itu aku baca beberapa review dan kebanyakan mereka mengatakan novel ini sangat menguras emosi sampai banjir air mata (oke alay). Karena aku suka novel genre begitu, akhirnya aku berniat membacanya atas dasar rasa kepo yang tinggi.

Tapi sialnya ketika itu keadaan dompetku lebih mirip padang pasir. Jadi aku nggak banyak beli buku. Aku mengandalkan keberuntungan dengan mengikuti beberapa giveaway yang sialnya lagi, dewi fortuna sedang tidak berpihak padaku.

Akhirnya aku berhasil membeli buku ini April kemarin di Gramedia Simpang Lima, Semarang.

Horeee. /claps/.

Dan baru saja selasai baca hari ini karena kemarin-kemarin kebanyakan nonton drama Korea.

Dikisahkan He Man, seorang wanita yang baru saja bangun dari koma. Ia terbaring selama satu bulan lebih tanpa tahu bahwa ia baru saja mengalami kecelakaan yang menggegarkan otaknya. Hal terakhir yang He Man ingat adalah ia baru saja bulan madu dengan suaminya, Xie Yu.

Namun alangkah terkejutnya He Man ketika He Qi—kakanya, berkata bahwa ia dan Xie Yu sudah bercerai. Percayakah, padahal mereka baru saja bulan madu kemarin. Selain itu, He Man juga amat terkejut karena hubungannya dengan sahabatnya, Xiao Huan, benar-benar hancur.

Dokter berkata He Man mengalami amnesia sementara. Ia kehilangan ingatannya selama lima tahun terkahir. Dan cara efektif yang dapat membantu memulihkan ingatannya adalah dengan hidup seperti lima tahun lalu sebagaimana otaknya mengingat.

Karena He Man tidak mengerti situasi yang sedang terjadi, ia memutuskan untuk mencari Xie Yu dengan harapan mendapat penjelasan mengenai semua hal yang telah terjadi. Di sisi lain, Xie Yu menganggap He Man hanya bersandiwara tentang amnesianya.

Walaupun Xie Yu berkata ia bersedia membantu He Man memulihkan ingatannya, ia juga tidak bisa terus-terusan bersama ‘mantan’ istrinya tersebut karena Xie Yu sudah punya pacar baru bernama Lily.

Hal yang mengguncangkan Xie Yu adalah perasannya pada He Man. Lima tahun terakhir, ia terlihat seperti membenci He Man. ‘He Man yang dulu’ sangatlah beda dengan ‘He Man yang sekarang’. Tentu saja He Man sangat bingung mengapa semuanya begitu berbeda, bahkan Xie Yu yang menatapnya benci bagai orang asing.

Lalu, dapatkah waktu mengikis perasaan cinta?

Pertanyaan itu aku temukan pada blog mizukeume(dot)blogspot(com), waktu aku ikut giveaway novel ini. Di sana aku menjawab tentu saja waktu dapat mengikis perasaan cinta. Jika telah terlalu lama mencintai namun sama sekali tidak dihargai, akankah itu masih layak disebut cinta?

Setelah membaca novel ini, aku sedikit mengubah pandanganku tentang hal tersebut. Kuputuskan bahwa waktu tidak bisa mengikis rasa cinta. Jika bisa demikian, maka itu bukan cinta namanya. Menurutku, itu hanyalah sekedar rasa pemuas kagum dan kenyamanan sementara.

Menurutku, derajat ‘cinta’ lebih tinggi dari yang lain. Aku mengartikannya sebagai ‘yang terakhir’ atau ‘takdir’. Ya, hal-hal seperti itu.

Yaampun, ngomong apa diriku.

The Stolen Years, waktu yang tercuri. Lima tahun adalah waktu yang mencuri masa-masa bahagia He Man bersama Xie Yu. Banyak sekali pertanyaan yang bahkan sebelum hilang ingatan, ingin He Man tanyakan pada Xie Yu, atau pada siapa saja.

“Nyamankah memiliki perasaan seperti itu? Padahal sepertinya itu tidak pernah terjadi, tapi kau harus mengakuinya dan menerima akibatnya.”—Hlm. 96.

Walaupun aku belum menikah, aku tahu bagaimana rasanya menjadi He Man. Ia membenci dirinya yang terlihat sangat bodoh. Ia benci menemukan kenyataan bagaimana lima tahun itu ia memperlakukan Xie Yu dan orang-orang di sekitarnya.

Begitu juga Xie Yu. Sejak awal aku tahu bahwa pria ini masih sangat menyayangi mantan istrinya, tidak peduli bagaimana sikap wanita itu padanya. Perlakukan Xie Yu kepada He Man dan Lily begitu kentara berbeda. Sepertinya cukup sulit rasanya jika aku berada di posisi Xie Yu. Toh, aku perempuan dan Xie Yu laki-laki. Hahaha.

Dan Lily. Gadis ini sangat sabar dan pengertian ketika menemukan Xie Yu yang berniat membantu He Man memulihkan ingatannya. Bagaimana pun, mereka pernah begitu saling mencintai hingga memutuskan untuk menikah.

Aku merasakan emosi yang dalam ketika membaca kalimat demi kalimat yang terangkai. Alur yang disediakan penulis sangat dahsyat seperti roller coaster. Awalnya berjalan lambat, tiba-tiba naik, dan tiba-tiba terjun. Rasanya aku seperti diaduk-aduk benar!

Bahkan sampai ending, aku benar-benar tidak bisa menebak. Sampai halaman terakhir, kurasa penulis seperti menyuguhkan ‘silakan Anda ingin beranggapan bagaimana’, walaupun kurasa setiap pembaca akan berpikiran sama.

Dan menurutku, ending-nya sempurna.

Sempurna.

“Aku hanya merasa kalau cinta adalah sebuah masalah yang sederhana. Aku tidak bisa meninggalkannya, tidak bisa melepaskannya, dan terlebih lagi, aku tidak merasa kalau dia telah menghilangkan masa mudaku.” – Xie Yu, halaman 333.

Satu hal yang dapat aku katakan tentang quote di itu: setuju.

Aku menyadari cinta memanglah sebuah hal yang sederhana. Di usiaku sekarang, tentu saja aku pernah merasakan jatuh cinta. Baik cinta yang manis, cinta yang berujung pahit, sampai cinta tak berbalas. Ah, mungkin bukan cinta, ya, sebutannya. Bagaimana pun diriku ini masih anak SMA yang labil. Hahaha.

Intinya, aku pernah menyukai lawan jenis dengan perasaan spesial.

Semuanya memang sederhana. Hanya bertukar pesan dan membicarakan hal-hal yang bahkan tidak penting, berbagi cerita dan berusaha saling memahami. Kegiatan itu dirasa sangat menyenangkan.

Sesederhana itu.

Awalnya aku mengira Xie Yu adalah pria pengecut dan sangat tidak diharapkan menjadi seorang suami. Ia terlihat tidak bertanggung jawab. Juga He Man yang terlihat sangat manja dan suka merengek. Mereka adalah pasutri kekanak-kanakan yang tidak cocok untuk menikah.

Namun di pertengah bab sampai ending, aku merasa seperti dijatuhkan dari jurang terdalam. Shock, hanya itulah yang mampu kudeskripsikan. Semua pikiranku salah dan sekali lagi, aku sangat menyukai novel dengan cerita yang menjatuh-bangunkan pembaca seperti ini.

Sekali lagi, kukatan bahwa ini sempurna.

Mengenai air mata, ngomong-ngomong aku tidak menangis selama membacanya. Itu karena aku menyelesaikannya di kelas, sehingga konsentrasiku terganggu dengan kebisingan kelas. Maklum, udah selesai UKK jadi jamkos tiap hari :v Nggak lucu juga kan nangis di kelas gara-gara baca novel :v

Namun aku cukup hanyut dalam setiap kata yang penulis rangkai.

Untuk judul dan cover, aku suka sekali. Sangat cantik dan punya daya pikat tersendiri untuk membacanya. Dan kurasa gambar wanita itu dilukiskan sebagai He Man. Bahasa terjemahannya juga mudah dipahami dengan bahasa komunikatif dan tidak terlalu berat.

Empat dari lima bintang untuk novel ini. Aku merekomendasikannya untuk pembaca penggemar novel romansa, terutama kaum melakonis yang perasaannya sangat lembut (seperti aku, hahaha).

Well, I enjoyed this book ❤

Sampai di sini dulu review-ku kali ini. Sampai jumpa di review-ku berikutnya.

Terimakasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak komentar! ^^

xoxo,

aizakuri

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s