[BOOK REVIEW] The Lunar Chronicles: Cress by Marissa Meyer

https://hyeeunkim.files.wordpress.com/2016/07/c4d89-cress2blunar2b3.jpg?w=450&h=655

Judul: The Lunar Chronicles: Cress
Penulis: Marissa Meyer
Penerbit: Spring
Penerjemah: Jia Effendie
Genre: Dystopian, Re-telling, Sci-fi
Ukuran: 14×20 cm
Halaman: 576 halaman
Terbit : Mei 2016
ISBN : 978-602-715-058-4
My rating: 5/5 stars

SINOPSIS

Cinder dan kapten Thorne masih buron. Scarlet dan Wolf bergabung dalam rombongan kecil mereka, berencana untuk menggulingkan Levana dari takhtanya.

Mereka mengharapkan bantuan dari seorang gadis bernama Cress. Gadis itu dipenjara di sebuah satelit kecil, hanya ditemani netscreen yang menjadikannya peretas andal. Namun kenyataanya, Cress menerima perintah dari Levana untuk melacak Cinder, dan Cress bisa menemukan mereka dengan mudah.

Sementara itu di Bumi, Levana tidak akan membiarkan siapa pun menggambarkan siapa pun mengganggu pernikahannya dengan Kaisar Kai.  

 REVIEW

Sebelumnya, agar nyambung baca review ini, sebaiknya kalian baca review dua buku sebelumnya dulu. Cinder dan Scarlet.

Halo!

Lama sekali tidak berjumpa /siapa dengan siapa emang/. Ketemu lagi dengan saya, reviewer baper. Eh.

Hahaha, cukup lama saya tidak me-review. Kemarin saya sedang dalam mode semangat untuk meneruskan naskah saya yang terbengkalai cukup lama. Jadi saya lumayan puasa membaca buku atau nonton film/drama. Soalnya kalo baca buku, pasti bahasa penulisnya akan terbawa. Saya yang bisa dibilang belum menemukan khas saya dalam tulisan, tidak akan semakin merusaknya dengan memasukkan orang lain dalam tulisan saya. Jadi, saya sedang berusaha untuk menemukan jati diri saya dalam tulisan saya sendiri.

Kenapa pake saya, sepertinya formal sekali. Dan topiknya seperti berat.

Tapi menulis itu juga bisa bosan. Beruntung, aku mendapatkan buku Cress itu saat Penerbit Spring mengadakan Book Tour di Instagram dan aku menjadi salah satu pemenangnya. Kebetulan mood menulisku tiba-tiba buruk. Jadi aku membaca Cress selama tiga hari belakang dan aku harus mengikuti aturannya, yaitu membaca Cress dan me-review-nya dalam 10 hari.

Tidak masalah. Apa pun untuk buku gratis xD

Anw, terimakasih Penerbit Spring yang telah memberikanku Cinder dan Cress secara cuma-cuma 😀 Kalau mau ngasih Winter dan yang lainnya, aku akan menerima dengan senang hati. Hahahaha.

Oke sudah dulu cuap-cuapnya. Happy reading!

Cinder dan Thorne berhasil mencuri Rampion dan melarikan diri. Dokter Erland juga sudah entah berada di mana. Scarlet dan Wolf sudah bergabung dengan Cinder dan Thorne. Levana sudah diluar batas kendali. Perang antara Bumi dan Bulan sudah dimulai.

Pembantaian. Kematian. Penderitaan. Letumosis.

Dan yang terpenting, Kai dan Levana akan menikah!

Oh, demi bintang-bintang, keadaan kacau apakah itu?!

“Menatap senyum itu, Cress meleleh.
Setiap. Saat.” – halaman 28.

Kalau Cinder punya Linh Cinder dan Kaisar Kaito sebagai tokoh utama, Scarlet punya Scarlet Benoit dan Ze’ev Kesley atau lebih dikenal dengan Wolf, maka Cress juga punya Crescent Moon dan Carswell Thorne sebagai pemain utamanya.

CARSWELL THORNE! ><

Oke kayaknya aku terlalu bersemangat.

Singkatnya, aku sudah dibuat jatuh cinta dengan Carswell Thorne sejak kemunculannya di buku kedua, Scarlet. Sosok pemuda yang selalu ceria juga narsis ini digambarkan begitu tampan dengan rambut keemasan dan mata biru langitnya. Siapa yang tidak mudah jatuh cinta dengannya? Meski dia adalah seorang kriminal dan buronan paling dicari di tiga benua, pemuda itu tetap tersenyum tanpa beban dan berjalan dengan kepala tegak penuh percaya diri.

http://vignette2.wikia.nocookie.net/lunarchronicles/images/f/fd/Carswell_Thorne_Portrait.jpg/revision/latest?cb=20140104020607
Carswell Thorne

Sedangkan Crescent Moon atau yang akrab disapa Cress adalah seorang gadis malang. Dia dikurung di dalam sebuah satelit ruang angkasa. Tugasnya mudah. Cress diberkahi kemampuan luar biasa meskipun dia seorang shell.

Ngomong-ngomong, shell adalah penduduk Bulan yang tidak memiliki anugrah memikat. Singkatnya, orang-orang Bulan itu punya daya pikat yang bisa mengendalikan orang lain. Tapi seorang shell tidak bisa mengendalikan dan dikendalikan orang lain. Karena itu, Ratu Levana—ratu Bulan—marah karena menurutnya, para shell tidak berguna (karena tidak bisa dikendalikan, tentunya). Maka ada hukum yang mengatur setiap bayi shell yang lahir harus dibunuh.

http://vignette4.wikia.nocookie.net/lunarchronicles/images/c/c5/Crescent_Moon_Darnel_Portrait.jpg/revision/latest?cb=20140104021018
Crescent Moon

Tapi tidak dengan Cress. Gadis itu adalah hacker, cracker, peretas yang andal. Dia bisa meretas sistem keamanan antarnegara di Bumi-yang sangat rahasia sekali pun-meski dia jauh di luar angkasa. Dia juga yang bertugas menyelundupkan pesawat-pesawat Bulan yang tersebar di galaksi sekitar Bumi agar tidak terlacak Bumi. Mudah, kan tugasnya.

Adalah Ahli Sihir Bulan, Sybil Mira, yang menyelamatkan Cress dari kematiannya sewaktu ia lahir. Sybil mengetahui kemampuan Cress dan memanfaatkannya. Cress dikurung di satelit selama tujuh tahun hingga rambutnya panjang sekali. Sybil-lah yang memasok semua kebutuhan Cress, tapi tidak lebih baik dari pada penjara, kurasa.

Cress adalah gadis yang pemalu, mengingat ia tidak pernah bersosialisasi dengan siapa pun kecuali komputer. Cress juga pendek sekali, tingginya 153 cm. Sampai suatu hari ia sadar bahwa yang dilakukannya itu salah. Cress mulai berontak. Cress takut dengan Bulan, tanah kelahirannya. Dia takut dengan Ratu Levana yang kejam. Dia juga takut dengan Sybil Mira, nyonyanya.

“Cress terus menggali informasi, terpesona dengan cara pemuda itu menghancurkan dirinya sendiri. Seperti saat menonton sebuah tabrakan asteroid, Cress tidak bisa berpaling.” – halaman 32.

Saat itulah Cress melacak Rampion, pesawat yang digunakan Cinder, dkk untuk melarikan diri. Juga diam-diam, Cress jatuh cinta dengan Carswell Thorne. Dia melakukan riset dan tahu semuanya tentang Thorne.

Cinder tahu Cress akan membantu misinya. Karena itu ia berencana untuk menjemput Cress dan mengajaknya bergabung di Rampion. Namun tentu saja, misi penjemputan itu tidak berjalan semulus yang pembaca inginkan.

Selama membaca Cress, aku merasakan petualangan luar biasa yang sebelumnya belum pernah aku rasakan di mana pun. Oke lebay. Intinya, petualangan Cress lebih seru dari pada dua buku sebelumnya.

Aku sampai bingung harus mendiskusikan keseruannya dari mana, tanpa spoiler.

Tapi aku nggak akan nulis spoiler di sini, sebisaku.

Jadi, konflik yang ada bertambah rumit. Sangat rumit. Cress yang dijemput. Jatuh. Trauma. Sakit. Kematian. Gurun. Pemberontakan. Perang.

“Dia yakin Thorne hanya perlu bertemu dengannya, sekali saja, untuk merasakan hal yang sama. Ini akan menjadi kisah cinta epik yang muncul, meledak, dan terbakar dalam api putih keabadian. Jenis cinta yang tidak bisa dipisahkan oleh jarak, waktu, dan bahkan kematian.” – halaman 34.

Semuanya berjalan dengan sangat baik. Aku selalu suka bagian ketika Cress dan Thorne bersama. Tadi kukatakan bahwa Thorne adalah pemuda yang selalu ceria dan narsis, sedangkan Cress adalah gadis pemalu. Dia kadang membayangkan fantasi romantis seperti di drama Internet saat bersama Thorne. Namun kenyataannya, kisah mereka lebih dari sekedar romantis.

Mereka mengagumkan. Penuh emosi. Dan perjuangan.

Yakin, aku sampai mau nangis di satu part perbincangan mereka.

Tentu saja Cress terlihat jelas kalau dia menyukai Thorne dari segi mana pun. Sedangkan Thorne… ah, dia susah ditebak tapi manis juga. Cress jadi terasa kecil sekali dalam dekapan Thorne. Menurutku, Thorne menganggap Cress mungil sangat butuh perlindungannya, meski dia juga terluka.

“Kau mencintainya. Aku akan merasakan hal yang sama kalau seseorang ingin menghapus identitas Scarlet dan memberikannya ke pasukan Levana.” – Wolf, halaman 42.

Di samping itu, Scarlet dan Wolf juga masih berlanjut. Aku bisa membayangkan betapa Wolf menyayangi Scarlet lebih dari apa pun. Lebih dari apa pun. Wolf tidak akan pernah merasa nyaman jika Scarlet jauh darinya. Hal itu membuatku sedikit tersentuh. Walau pun Wolf bertubuh kekar dan kuat sekali—secara dia petarung—Wolf punya perasaan yang lembut dan sensitif seperti bayi. Dia manis sekali dengan Scralet yang… yang sesuatu aku tidak bisa menjelaskannya.

Sayanagnya, part Scarlet di Cress ini sedikit. Ditambah sekali kalau perlu.

Dan favoritku dari semuanya tentu saja Cinder dan Kai. Cinder adalah tokoh paling utama dari seri ini. Tentu saja dia punya part yang cukup banyak di setiap buku.

Aku tahu Cinder menyukai Kai, begitu sebaliknya walau pun Kai selalu mengelak. Cinder hanya seorang buronan. Dia penjahat. Pengkhianat. Pembohong. Apa yang mungkin seorang Kaisar sukai dari seorang cyborg?

Ngomong-ngomong, Cinder itu cyborg. Manusia setengah robot, kalau kau tidak tahu.

“Cinder menyaksikan Kai dengan sendi-sendi melemah. Dia ingin masuk ke layar dan memeluk Kai, kemudian mengucapkan terima kasih-terima kasih. Namun dengan jarak ribuan mil, Cinder malah memeluk dirinya sendiri.” – halaman 324.

Mereka tidak selalu bersama. Mereka terpisah jarak, waktu, bahkan galaksi. Namun mereka saling merindukan. Saling mengkhawatirkan satu sama lain. Saling berucap ‘semoga kau baik-baik saja’. Dan menurutku itu manis sekali. Semenggemaskan apa Cress-Thorne, seromantis apa Scarlet-Wolf, Cinder-Kai tetap nomor satu bagiku. Hehehe.

Kembali aku katakan bahwa aku sangat-sangat terkesan dengan cara penulis menggabungkan tiga cerita yang mulanya sama sekali berbeda. Cinder adalah re-telling dari kisah populer Cinderella. Scarlet diambil dari Little Red Riding Hood, dan Cress diadaptasi dari kisah Tangled. Ya, Cress digambarkan seperti Rapunzel. Ketiganya sangat-sangat tidak berhubungan, kan?

https://i1.wp.com/www.masal.web.tr/wp-content/uploads/2015/10/rapunzel.jpg

Dari semua imaginary cast, aku tetap membayangkan Cress unyu seperti Rapunzel.

Tapi Marissa Meyer meracik ulang ketiganya dalam seri The Lunar Chronicles ini dengan apik dan sangat rapi. Semuanya disajikan dengan segala bumbu teknologi yang membuatnya terdengar modern.

Aku juga terkesan dengan pengetahuan penulis, luas sekali. Seri ini mengambil latar dunia—bahkan galaksi dan Bulan. Setiap negara yang ada di dalamnya digambarkan sangat jelas. Budaya dan bahasa dan gaya dan semuanya. Penulis juga punya pengetahuan yang luas tentang teknologi dan medis. Semuanya dibungkus dalam kisah fantasi yang mengagumkan.

Ngomong-ngomong, masih ingat dengan android Cinder, Iko? Terakhir kali dia menjadi Rampion. Sekarang Iko sudah menjelma menjadi seorang gadis android pendamping. Dia punya tubuh seksi yang sempurna. Rambutnya biru dan Iko sangat bahagia dengan semua berkahnya itu. Iko adalah satu-satunya android yang manusiawi. Maksudnya, kebanyakan android berlaku seperti robot, yang memang sudah diprogramkan untuk mereka. Tapi Iko berbeda. Iko bisa memberontak dan bahkan merasakan perasaan manusia.

Jujur saja, aku agak sebal dengan alurnya yang berjalan lambat, terlebih karena Cress ini tebal dan paling tebal di keempat bukunya—setahuku. Alurnya naik turun seperti roller coaster. Menarik, namun juga agak membosankan saat sudah turun, bukan lega. Meski lega juga karena satu konfliknya teratasi. Walau pun begitu, emosi yang disuguhkan Cress mampu mengaduk-aduk perasaanku selama membacanya. Aku jadi tidak rela meletakkan buku ini sebentar saja. kisahnya sangat memaksa untuk terus diikuti hingga tuntas!

Untuk segi cerita, kurasa ketiganya mengalami peningkatan. Scarlet lebih menarik dari Cinder, dan Cress lebih menarik dari Scarlet. Kurasa Winter juga akan lebih menarik dari Cress. Kita tunggu saja tanggal terbitnya 😀

“Kau tidak seharusnya mengatakan kau menyayangi seseorang kecuali kau sungguh-sungguh.” – Carswell Thorne, halaman 528.

Sepertinya aku tidak perlu membahas tentang bahasa terjemahan karena semua buku yang diterjemahkan oleh Penerbit Spring sangat enak untuk dibaca. Tidak berbelit-belit namun juga tidak terlalu biasa. Bahasanya indah, kalau perlu kukatakan. Hahaha. Cress ini juga punya banyak kalimat-kalimat cantik yang bikin aku senyum-senyum sendiri.

Konflik di buku ini tentu saja belum selesai karena masih ada satu buku, Winter. Ngomong-ngomong spoiler sedikit, Winter dan Jacin Clay yang merupakan tokoh untuk buku keempatnya sudah terlihat di sini. Namun tentu saja mereka belum terlalu menonjol. Winter masih membingungkan, juga Jacin yang merupakan pengawal istana Bulan. Belum bisa dipastikan mereka ini baik atau jahat :v

Aku berharap Winter lebih seru dari Cress. Juga dua buku lainnya yang berhubungan, Stars Above dan Fairest. Semoga Penerbit Spring menerjemahkannya juga.

“Mungkin tidak ada yang namanya takdir. Mungkin itu hanyalah kesempatan yang diberikan, dan apa yang kita lakukan dengan kesempatan itu. Aku mulai berpikir bahwa mungkin romansa yang epik dan hebat tidak terjadi begitu saja. Kita harus membuatnya sendiri.” – Crescent Moon, halaman 533.

Seri The Lunar Chronicles ini sangat mengesankan. Kisahnya tidak pasaran. Imajinasinya kuat. Penokohannya hidup. Pokoknya dijamin, tidak akan mengecewakan! 😀

Kemudian berikut adalah beberapa imaginary cast dari novel Cress yang tidak merusak ekspetasiku :v Hehehe.

http://vignette2.wikia.nocookie.net/lunarchronicles/images/0/05/Crescent_Moon_Darnel_Full_Body_Shot.jpg/revision/latest?cb=20140215200832

http://vignette1.wikia.nocookie.net/lunarchronicles/images/2/29/Carswell_Thorne_Full_Body_Shot.jpg/revision/latest?cb=20140215200612

https://i2.wp.com/orig14.deviantart.net/67ff/f/2015/205/a/a/cress_and_thorne_by_dancingintherain248-d90qd97.jpg

https://i0.wp.com/41.media.tumblr.com/cdc4a8f3dd7b3c03cc8b137b18646c61/tumblr_o0g710NEvH1r80kcoo1_500.jpg

Terimakasih untuk siapa saja yang sudah membaca review-ku. Jangan lupa tinggalkan komentar, ya! ^^

Sampai bertemu di review-ku berikutnya!

https://i2.wp.com/img12.deviantart.net/b947/i/2015/319/d/5/cress_and_thorne_by_taratjah-d9gtbj1.jpg

xoxo,
aizakuri

Credits:

Information by penerbitspring(dot)com

Pictures:

http://vignette2.wikia.nocookie.net/lunarchronicles/images/0/05/Crescent_Moon_Darnel_Full_Body_Shot.jpg/revision/latest?cb=20140215200832

http://vignette1.wikia.nocookie.net/lunarchronicles/images/2/29/Carswell_Thorne_Full_Body_Shot.jpg/revision/latest?cb=20140215200612

Iklan

2 thoughts on “[BOOK REVIEW] The Lunar Chronicles: Cress by Marissa Meyer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s