[BOOK REVIEW] Apa Pun Selain Hujan by Orizuka

https://mernaarini.files.wordpress.com/2016/05/apapun-selain-hujan-by-orizuka1.jpg?w=463&h=655

Judul: Apa Pun Selain Hujan
Penulis: Orizuka
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 287 halaman
Bahasa: Bahasa Indonesia
ISBN: 979-780-850-5

SINOPSIS

Wira membenci hujan. Hujan mengingatkannya akan sebuah memori buruk, menyakitinya….

Agar bisa terus melangkah, Wira meninggalkan semuanya. Ia meninggalkan kota tempat tinggalnya. Meninggalkan mimpi terbesarnya. Bahkan, meninggalkan perempuan yang disayanginya.

Namun, seberapa pun jauh langkah Wira meninggalkan mimpi, mimpi itu justru semakin mendekat. Saat ia sedang berusaha keras melupakan masa lalu, saat itulah ia bertemu Kayla.

Pertemuan itu mengubah segalanya.

Sebuah novel tentang melepaskan mimpi di bawah hujan. Tentang cinta yang diam-diam tumbuh bersama luka. Juga tentang memaafkan diri sendiri.

REVIEW

Sejak pertama kabar akan terbitnya Apa Pun Selain Hujan, aku sudah langsung memasukkannya ke book wishlist-ku, karena ini adalah novel Orizuka. Kenapa? Tentu saja karena aku adalah penggemarnya Orizuka.

Tapi karena banyak buku bagus yang terbit tahun ini, juga banyaknya kebutuhan sebagai wanita (?), kesempatan membeli novel ini jadi agak tersingkir. Mirisnya lagi, Dewi Fortuna tidak pernah berpihak padaku selama aku ikut give away unuk novel ini u_u

Daaaan akhirnya aku beli juga setelah pertimbangan yang cukup menguras energi otak. Aku berpikir ‘besok mau makan apa dan pulang pakai bensin siapa kalo aku beli novel ini sekarang’, karena waktu itu aku lagi liburan di Jogja. Dan setelah dipikir-pikir, lebih baik emang beli dari pada nyesel ke Gramedia nggak beli apa-apa :v

Wahahaha, dasar kutu buku.

Oke sudah dulu curhatnya. Selamat membaca review-ku! ^^

Sesuai dengan sinopsisnya, Apa Pun Selain Hujan berkisah tentang seorang Wirawan Gunadi yang merantau jauh ke Malang untuk meninggalkan masa lalu pilunya di Jakarta.

Pemuda yang kuliah di jurusan Teknik Sipil itu mempunyai kenangan yang terlampau buruk di kota kelahirannya, sehingga memilih Universitas Brawijaya untuknya melanjutkan kuliah. Di Malang yang begitu jauh dari Jakarta, ia tinggal bersama neneknya.

Awalnya aku nggak pernah nyangka novel ini akan bercerita tentang taekwondo. Sama sekali nggak terpikir di otakku. Yap, Wira adalah seorang taekwondoin. Ia adalah pemegang sabuk hitam. Namun, ada yang membuatnya jadi tidak menyukai taekwondo. Ada yang membuat Wira memilih untuk berjanji tidak akan menyentuh bahkan mengingat taekwondo lagi.

Sampai kemudian Wira bertemu dengan seorang gadis dari jurusan Kedokteran Hewan bernama Kayla Adelisa. Gadis itulah yang kemudian sedikit demi sedikit mengobrak-abrik kenangan Wira. Kayla telah merusak semua pertahanan Wira. Kayla memang mengulurkan tangan padanya, namun juga membuatnya terperosok pada jurang luka lebih dalam lagi.

Halah, bahasanya mbak.

Hmmm, jadi begitulah konflik antara Wira dan Kayla. Kayla juga seorang taekwondoin. Karenanya, Wira sangat terganggu dengan kehadiran Kayla. Berkali-kali ia mencoba menjauh darinya, namun takdir tetap saja kejam membuatnya terus bertemu gadis yang hiperaktif itu. lebih lagi ketika Attar, senior mereka yang menyukai Kayla dan sama sekali tidak suka Wira.

Ah, Kayla memang gadis dengan kelebihan semangat. Kebalikan, Wira adalah cowok lembek yang labil dan tidak pernah mau menjadi lebih maju untuk memperbaiki diri.

Di sini aku selalu suka bagaimana Orizuka menghadirkan tokoh-tokohnya dengan begitu hidup. Dengan hal-hal kecil seperti menggaruk pangkal hidung, menggaruk kepala yang tidak gatal, dan sebagainya, setiap tokoh jadi punya karakteristiknya masing-masing. Terakhir di seri The Chronicles of Audy, aku sungguh menyukai semua tokohnya yang terasa nyata, sekarang terulang lagi di Apa Pun Selain Hujan. Karakter kuat Wira dan Kayla, membuatku tidak pernah menyesal membaca novelnya Orizuka, meski temenku bilang ‘kamu suka Orizuka? Bukunya kan menye-menye, melakonis gitu. 17 Years of Love Song apa lagi’.

Duh, selera ya. Aku juga tipe cewek melakonis sih, jadi suka-suka aja wahahahaha. Tapi Orizuka memang selalu berhasil dengan novelnya. Dan aku tidak pernah kecewa.

Oke kembali lagi ke topik.

“Aku mohon, Kay,” kata Wira, tak tahan lagi melihat Kayla yang sudah basah kuyup. “Apa pun selain hujan.” – hlm. 217

Wira membeci hujan. Sesuai judulnya, ya. Selain meninggalkan mimpinya di taekwondo, Wira juga meninggalkan gadis yang dicintainya, Nadine. Itu karena Wira sudah berjanji akan meninggalkan apa pun itu yang berhubungan dengan masa lalunya. Yang mengingatkannya akan peristiwa itu.

Peristiwa apa hayo? Mari baca novelnya :3

Hmmm, kalo aku jadi Wira, mungkin aku juga akan merasakan hal yang sama. Berhubung (sepertinya) aku dan Wira sama-sama tipe melakonis, aku jadi mengerti bagaimana perasaannya. Aku paham mengapa Wira ingin pergi begitu jauh dan melupakan segalanya.

Hal yang telah Wira alami bukan hal kecil, bukan hal yang mudah baginya menjalani hari-hari dengan hidup.  Tapi bedanya aku dengan Wira (cielah), mungkin aku tidak akan terlalu trauma berkepanjangan seperti itu. Aku akan tetap melanjutkan hidup dengan bahagia dan mengenang apa yang perlu dikenang.

Tapi Wira ini sungguh labil dan menggemaskan. Ugh, Wira, kamu ini cowok! Kamu nggak bisa terlihat lemah gitu dong, apalagi di depan Kayla!

Cieeeeeee.

Apaan sih reviewer-nya gaje ini.

Hmmm, tapi itu yang membuat kisah ini spesial. Wira yang lembek bertemu Kayla yang superaktif. Jadi menarik, karena bisanya kan cewek yang dramatis gitu.

Tapi… Wira masih menyayangi Nadine. Duh, gimana dong dengan Kayla? Padahal kan Kayla yang lebih sering sama Wira, dibanding Nadine yang kabarnya aja Wira nggak tahu. Hmm, jadi Wira ini tipe yang susah move on, ya. Sama dong.

Eh.

Jadiiii, bagaimana kelanjutan kisah Wira? Mengapa ia begitu takut dengan hujan? Apakah ia akan kembali pada taekwondo yang sudah seperti napas bagi hidupnya? Apasih masa lalu Wira sampai cowok itu jadi sangat lemah dan menarik diri dari semua orang?

Bagaimana kelanjutan kisah romansanya dengan Kayla? Akankah ia menerima kehadiran gadis itu yang justru semakin menariknya dalam masa lalu kelamnya? Ataukah ia mencari Nadine dan bertekad kembali padanya?

Seperti novelnya yang lain, alur yang Orizuka suguhnya memang susah ditebak. Seperti aku nggak bisa menebak apakah Audy akan berakhir dengan Rex atau Romeo, aku juga nggak bisa nebak Wira bakal sama Kayla atau merengek minta balikan sana Nadine, sampai bagian belakang novel ini.

Oh iya, Wira dan Kayla punya kucing loh, namanya Sarang. Hihihi, lucu ya :3

“Tapi kamu juga punya kuasa untuk mempercayai dirimu sendiri, juga orang-orang yang benar-benar sayang dan peduli padamu. Kalau kamu selalu percaya omongan orang lain, kamu tidak akan bisa bahagia.” – hlm. 254

Novel ini memberi amanat yang bagus—setidaknya untukku. Sama seperti kutipan di atas, aku seperti diberi tahu untuk tidak selalu percaya pada omongan orang lain yang tidak sepenuhnya benar. Kadang, orang terdekat kita pun tidak tentu bisa dipercaya omongannya. Jadi kita harus percaya pada diri sendiri melebihi siapa pun (kecuali Tuhan, tentunya). Karena kalau kita percaya diri, semuanya tentu akan menjadi lebih mudah. Aku benar, kan? 😀

Aaaah, aku emang nggak salah jadi fansnya Orizuka. Aku suka bagaimana dia menggambarkan latar dengan begitu jelas. Bayangan tentang Universitas Brawijaya yang selama ini hanya aku tahu namanya jadi tergambar sedikitnya beberapa tempat di novel ini. Juga tempat-tempat lain seperti Jatim Park, dan sebagainya. Dia benar-benar melakukan riset untuk novelnya.

Hal itu yang selalu ingin aku contoh tapi susah karena statusku masih pelajar SMA lebih lagi sekarang aku kelas 12. Aku selalu ingin menulis cerita dengan latar yang bervariasi, tapi selalu kurang riset. Rasanya kalau nggak datang langsung ke tempat itu tuh kurang mendalami gitu. Tapi ya gimana lagi, apa yang bisa dilakukan siswa kelas 12 untuk liburan ketika UN sudah melambai-lambai beberapa bulan saja di depan -_-

Orizuka juga menuliskan taekwondo dengan baik, bahkan gerakannya sampai aku yang awam taekwondo ini bisa membayangkannya. Penulis yang mengagumkan!

Hmmm, apa lagi ya yang perlu aku ulas tentang novel ini… rasanya aku pengen banyak cuap-cuap tapi nggak tahu harus bilang apa lagi. Segitu aja deh review kali ini. Aku kasih 4 dari 5 bintang untuk Apa Pun Selain Hujan ^_^

Novel ini recomended untuk kalian yang yang suka novel romansa, terutama yang melakonis kayak aku, meski novel ini nggak semelakonis 17 Years of Love Song, tapi cukup untuk menyayat hati. Jiah, bahasanya sok banget.

Oke, terimakasih untuk siapa saja yang sudah membaca tulisanku ini. Semoga tidak kecewa, ya, hehehe. Baca juga postinganku yang lain, dan jangan lupa beri komentar, ya! ^^

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s