[SAJAK] Ribuan Kilometer Terpaut Rindu

https://i2.wp.com/hdfreewallpaper.net/wp-content/uploads/2015/10/desktop-moon-beautiful-pictures-dowload-hd-free-wallpapers.jpg
(Taken from hdfreewallpaper[dot] net)

 

Sepatah sajak untuk     ,
ribuan kilometer terpaut rindu

Selamat malam,

Penaku malam ini memberitahuku, bahwa ia ingin bercerita. Menyampaikan betapa ia rindu menari, menggores tintanya.

Selamat malam,

Sebatang lilin di sudut kamarku malam ini, berbisik pelan di telingaku. Menyampaikan betapa ia rindu bernyanyi hangat untukmu, Rembulan, tidakkah engkau kesepian di sana sendirian?

Selamat malam, kini aku yang ingin menyampaikan. Betapa aku rindu menulis sajak. Aku rindu mematahkan sinar mentari pagi. Aku rindu ingin menyapamu dalam sepucuk surat.

Untukmu,
ribuan kilometer terpaut rindu.

Aku tak pernah ingat bagaimana awal mata kita bertemu. Aku tak ingat bagaimana indah lensamu, bagaimana berkilaunya rambutmu di tengah pagi yang cerah. Aku tak ingat bagaimana misteriusnya dirimu merenggut sadarku dalam hitungan detik. Engkau yang indah; satu pikirku.

Hari-hari yang berlalu begitu kekanakan. Aku begitu mudah terbuai setiap pukul tujuh aku menghadangmu di sudut jendela. Juga wangimu yang menguar memenuhi setiap ruang rusuk paruku. Aku tak ingat, sejak kapan aroma itu menjadi favoritku.

Aku tak ingat seberapa sering aku menyanyikanmu di tengah rinrik hujan, menjadikanmu sebuah nada untuk menutup kesedihan, Rindu, aku lupa caranya menetes air mata realita. Aku lupa bahwa terkadang mimpi indah pun terasa menyakitkan. Ketika aku menari, Rindu, sepatah tulang saja tak pernah kuhiraukan; jika itu selalu tentangmu.

Dan semua tak berjalan sesuai kehendakku. Aku juga tak ingat bagaimana rona merah muda menghiasi pipiku setiap kali aku menatapmu. Ketika kuberanikan tekad untuk mengatakan betapa indahnya dirimu, betapa aku ingin mengenggam setiap jari di tanganmu. Begitu aku ingin terbenam dalam pelukanmu.

Salahkah?

Diriku yang mengagumimu begitu jujur; bukan hanya karena elok parasmu—hei, engkau sama sekali tak sadar. Kita banyak menyukai hal sama. Aku tahu musik favoritmu, aku tahu film dan aktor kesukaanmu. Aku bahkan tahu bagaimana kau mengubah langkah ketika kau mulai berlari.

Aku menyukai semua yang ada pada dirimu; aku suka senyumanmu, aku suka caramu berkedip, aku suka bagaimana kau berjalan, aku suka ketika kau tertawa, aku suka saat kau terlelap.

Namun tidak; tentu saja itu tidak salah. Sama sekali.

Bagian mana yang tidak benar? Kurasa bukan hanya aku yang merasakannya.

Namun kurasa tidak juga kau, sebongkah bintang yang sulit kuraih. Kau embun gurun di kala aku haus, kau laksana setitik cahaya kala aku meringkuk di tengah gelap. Engkau api ketika tubuhku bergetar dingin hebat. Engkau rakit saat aku tenggelam. Engkau angin, engkau air, engkau berlian engkau tanah engkau awan; engkau rindu.

Rindu,
ribuan kilometer di sana.

Orang-orang bilang aku gila karena aku terlihat begitu memujamu. Namun tidak, aku hanya gemar memuisikanmu. Melukiskan bagaimana engkau bisa begitu indah di mataku lewat untaian kata. Aku tak pandai berbicara, namun tak pandai juga menyembunyikan rasa.

Untukmu,
ribuan kilometer terpaut rindu

Mungkin aku ingin berkata maaf, namun kurasa itu tak perlu. Bukan sebuah kesalahan mengapa aku bisa jatuh cinta padamu. Bukan juga kesalahan mengapa engkau tak juga menyadari perasaanku. Aku memang bukan putri raja, meski aku  pernah lancang  membayangkan betapa manis kita berdansa di sebuah pesta.

Biar kukatakan lagi. Engkau indah; sungguh.

Namun biar kukata begini, Rembulan.

Seiring jam berdetak, seiring setiap napas yang terembus. Aku mulai mengerti arti kilauan mataku ketika terpaut pada sosokmu; aku menatap sesuatu yang sia-sia. Aku membuat setiap detik kesempatan yang kupunya hanya untuk mengharap ruang hampa. Rembulan, engkau duka dalam suka.

Namun waktu juga tidak salah, keadaan juga tak patut disalahkan. Ini bukan tentang bagaimana semesta mempertemukan kita, bukan juga soal cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Rembulan, aku suka bersajak.

Atau mungkin kau adalah oasis untukku yang haus sajak.

Atau bukan; yang jelas aku sangat mengaguimu.

Tak peduli bagaimana kau membunuhku dengan rindu, tak peduli bagaimana hinanya diriku berharap sebuah senyuman matamu. Namun Rembulan, aku tidak gila. Aku bukan gadis bodoh yang hanya akan duduk diam menanti sang pangeran mengulurkan tangan. Aku cukup mengerti bahwa pengorbanan harus disertai dengan hasil yang cukup tanpa tetangan.

Hanya saja untukmu, ribuan kilometer terpaut rindu,

Terimakasih, untuk sejenak menjadi pelangi dalam mendungku.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s